Mendarat dengan Kepala



Namanya Suyono, asalnya dari Aryo Jeding Tulung Agung Jawa Timur, kurang lebih empat jam perjalanan dari Surabaya. Usianya sekitar 35 an tahun. Duduk sebangku dengannya di pesawat Air Asia dalam perjalanan Kuala Lumpur – Surabaya tak terasa walau telah 1 jam kami di angkasa.
“Mas di Malaysia sudah lama ?”, tanyanya membuka perbincangan dengan saya.
“Belum Pak saya baru tiga bulan”,
“Bekerja di mana ?”.
“Belajar Pak ”.
“Bapak sudah lama kerja di sini ?”
“Sudah mas, saya ada 7 tahun di Malaysia. ”
“Tapi tiap 3 bulan biasanya saya pulang, menjenguk keluarga di Tulung Agung.”
“Kerasan ya pak kerja di sini?”
“Kerasan mas kalau sudah nemu jalannya. Kalau tidak ketemu malah lama di lokap.” Lokap ini istilah untuk menyebut penjara, mungkin asal katanya dari lock atau dikunci.
“Saya dulu susah mas pertama datang kesini. Kalau orang lain datang kesini sebagai pelancong atau penonton balap mobil di Sepang, menginjak tanah Malaysia , turun dari pesawat dengan kakinya, saya turun dengan kepala. ”
“Lho kok bisa Pak, masak turun dengan kepala?”
“Ya mas, saya ke Malaysia bukan dengan pesawat. Setelah menjual tanah mbok saya di desa, saya berikan uang itu ke tekong. Kemudian bersamaan dengan calon-calon TKI yang lain naiklah bus ALS (Antar Lintas Sumatera) ke Sumatera dengan dipandu tekong tadi. “
“Sesampai di Tanjung Pinang malam-malam semuanya dinaikkan perahu . Banyak yang mabuk mas termasuk saya, karena tidak terbiasa naik perahu. Kemudian ketika Subuh menjelang kelihatan pucuk-pucuk pohon kelapa kami semua disuruh turun dengan mencebur ke air laut yang masih dingin-dinginnya. Tiada pilihan lain , begitulah cara kami mendarat dengan kepala lebih dahulu, kemudian berenang menuju pantai. Tak ada paspor, hanya KTP dan surat keterangan dari kelurahan yang ada pada kami semua, para pendatang. ”
“Di pantai sudah menunggu para calon majikan. Dalam keadaan kedinginan saya pasrah, siapa yang memilih saya, saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya. Kemudian saya dipilih oleh salah satu majikan dan di bawa ke Perak. Di sana kerja di ladang kelapa sawit.”
“Tinggalnya di ladang, jauh dari kota. Hari-hari hanya melihat ladang dan kelapa sawit saja. Kami tak berani pergi keluar, karena pasti akan ditangkap polisi, dipenjara karena tiada permit atau ijin kerja. Kami pun juga tidak punya paspor , hanya di ladanglah kami berani tinggal.
Setiap minggu dibagi alaun, atau semacam uang makanlah, kalau gaji nanti setelah satu tahun kontrak habis baru boleh diambil. Biar terkumpul banyak kata majikan.”
“Untuk memenuhi kebutuhan setiap minggu ada rombongan pedagang yang datang dengan mengendarai colt diesel. Kalau di sini disebut pedagang kaki lima, tapi mereka menyebut pedagang pasar malam. Dari situlah kami beli beras, sayur, ikan asin, atau baju bundle, yaitu baju bekas pakai yang dijual 5 ringgit satu pasang. ”
“Lama Pak bekerja disitu ?”, sahutku.
“Setelah satu tahun lewat kami minta gaji, tetapi ternyata majikan menolaknya. Kalau memaksa majikan akan melaporkan kepada polisi. Posisi kami lemah mas, hanya pegang uang sisa-sisa alaun saja di tangan, dan majikan mengingkari perjanjian. ”
“Akhirnya dengan berat hati saya merelakannya, sedangkan beberapa teman yang lain masih bertahan bekerja di ladang itu. Akhirnya saya pergi ke Kuala Lumpur. Dengan nekad mas, karena tiada pilihan. Mau pulang tanah sudah dijual, dan sekarang di tangan hanya beberapa ratus ringgit.”
“Sesampai di KL saya hanya jalan kesana kemari tak tahu tujuannya. Hingga pada suatu hari saya mengamati ada seorang pedagang di kedai nasi yang ketika berbicara njawani. Kemudian saya beranikan diri untuk menyapa dan memintaijin bolehkah saya membantunya. Tak usah dibayar, di beri makan dan minum saja sudah cukup. Dari situ sambil membantu saya mengamati, apa yang bisa dilakukan untuk mendapatkan uang. Kemudian saya coba meminta ijin pemilik kedai apakah boleh jika saya menumpang di kedainya untuk berjualan susu kedelai dan es dawet. Karena hanya itulah saat itu yang saya bisa membuatnya. Alhamdulillah, karena mungkin kasihan melihat saya, pemilik kedai itu mengijinkan. Dari menumpang itu, jualan saya terus berkembang dan sekarang sudah ada 10 tempat.”
“Satu tempat biasanya habis berapa gelas pak?”, tanyaku kemudian.
“Macam-macam mas, ndak pasti, tetapi selalunya lebih dari 100 gelas.”
“Semuanya ditangani sendiri Pak ?”
“Endaklah mas mana saya mampu, ada beberapa orang yang membantu, kami sistemnya komisi, biasanya saya ambil 25 sen bersih untuk setiap gelasnya.”
Otakku langsung berpikir, kutahu biasanya minuman di KL di jual satu gelasnya 1 Ringgit. Kalau seratus gelas berarti dari satu kedai saja dapat sekitar 100, kalau 10 sehari adalah sekitar RM 1000. Dan 30 hari dapat RM 30.000. (RM 30.000 sekitar Rp 90 juta an). Kalau dia ambil 25 sen berarti 25 % yang masuk kantong. Sekitar Rp 22.5 juta per bulan.
Tak terasa pesawat kami telah mendarat dan kami berpisah di gerbang imigrasi Juanda. Dia di meja yang ada tulisannya TKI sedangkan saya ambil di jalur umum. .....
Catatan Perjalanan Pulang Akhir 2010 ......

** Ilustrasi gambar dikutip dari http://arsipberita.com/show/ui-sampaikan-penghargaan-untuk-tki-119857.html

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »