Tulisan Wartawan G30S

Tulisan Wartawan G30S

Tulisan wartawan memang enak dibaca. Ketika sedang mengenang kembali, menonton film G 30 S di bulan oktober ini, mendapatkan link-link tulisan menarik. Bisa digunakan untuk mengobati rasa penasaran ketika mengikuti pelajaran sejarah sewaktu sekolah. Dan disinilah jawaban-jawaban itu. Walaupun mungkin apakah jawabannya memang benar atau salah, masih menjadi pro dan kontra.

1. http://teguhtimur.com/2008/10/04/membongkar-misteri-jenazah-tujuh-korban-g30s/
2. http://insideindonesia.org/content/view/1143/47/
3. http://fgaban.blogspot.com/2004/06/tragedi-nirmala-bonat.html
4. http://bangkit.or.id/main.php?menu=download
5. http://teguhtimur.com/category/malam-jahanam/?action=view¤t=misteriuntung.jpg

Menggambar


Menggambar merupakan ketrampilan yang diajarkan sejak kanak-kanak. Ketika masuk sekolah TK pelajaran pertamanya menggambar. Namun banyak orang ksulitan mengajarkan teknik menggambar. Apalagi ada mitos yang bisa menggambar itu harus punya bakat, sesuatu yang abstrak dan sulit untuk dijangkau.

Ketika mengajari anak menggambar beruntung menemukan website bagaimana caranya menggambar tokoh-tokoh kartun. Supaya tidak kehilangan link dicatat di bawah ini :

1. http://www.dragoart.com/tuts/419/1/1/how-to-draw-a-2005-bmw-m5-e60.htm
2. http://www.webdesigndev.com/flash/learn-how-to-create-a-flash-website
3. http://www.computerarts.co.uk/tutorials/2d__and__photoshop/illustrate_for_magazines
4. http://www.webdesigndev.com/photoshop/cute-candy-text-effect-in-photoshop#more-35
5. http://www.flashperfection.com/tutorials/House-Drawing-67507.html
6. http://sumberkarya.kampungdigital.com/?p=130
7. http://www.adobeflashtutorial.com/Tutorial-Mask-in-Movement-on-Text-c-12.html
8. http://flashvault.net/tutorial.asp?ID=62
Notebook-BlockNote

Notebook-BlockNote

Notebook, atau blocknote merupakan buku catatan, yang biasanya digunakan untuk mencatat impia, peristiwa, juga alamat-alamat penting yang ditemui. Buku catatan besar dan bisa dibuka dimanapun adalah blog. Makanya isian sebagian besar blog ini ya catatan-catatan alamat atau peristiwa yang bermakna...

Setelah mengelana dalam hutan link ada beberapa alamat yang perlu diingat. Daripada dimasukkan ke bookmark komputer kantor dan di rumah nggak bisa dibuka., akhirnya lebih mudah dicatat di blog saja.

Beberapa addres tersebut adalah :
Teknologi Informasi
http://maseko.com/2007/03/27/portable-application/
http://indonesiapresent.blogspot.com/
www.blogflux.com
http://surahyo-ebizz.blogspot.com/
http://www.copyscape.com
http://thetemplatemart.com/index.php?gclid=CIjm3_i03ZYCFRcEewod5XGr4Q
http://www.computer-advice.info/


Cerita anak http://www.e-smartschool.com/CRA/002/CRA0020005.asp
http://www.sertifikasiguru.org/
http://didit.rudiansah.blog2.plasa.com/otobiografi/

Blog sekolah
http://smancepiringkdl.blog2.plasa.com/weblog-gurusiswa/

Belajar Komputer
http://afing2008.blog2.plasa.com/

Belajar Bahasa Inggris
http://francisxavier.blog2.plasa.com/its-me/
http://learnenglish.byexamples.com/comparison-of-adverbs/

Pengamat
http://herynugroho.blog2.plasa.com/profil/

SMK
http://affandy.ss.blog2.plasa.com/im-not-you/

mading
http://ghamdan_10.blog2.plasa.com/

Soal unas
http://kenapa_tanya.blog2.plasa.com/

Blogfest
http://blogfest2008.blog2.plasa.com/

Pasiv income Guru
http://www.indoclass.com/class.php?cl=31

http://daffa_akhtar.blog2.plasa.com/tentang/

http://www.indoclass.com/class.php?cl=31
http://ardansirodjuddin.wordpress.com/tutorial-komputer/

http://www.sumedi.net/policy.asp


http://www.bamboomedia.net/

http://apiqquantum.wordpress.com/

http://sepia.blogsome.com/2008/08/25/salah-sangka/#more-227

Domino hitung
http://mozamal.multiply.com/journal/item/5/Kartu_Permainan_Angka_Edukasi_untuk_Anak-anak_dari_APIQ

Tentang sejarah
http://soeharto-online.blogspot.com/
http://anusapati.com/

Belajar jadi admin
http://affanzbasalamah.wordpress.com/

Pengalaman Programmer
http://www.zikri.com/2008/05/07/ketemu-bill-gates-lagi/

CD untuk masa kanak-kanak
http://www.mitrakomp.net/cd_anak.htm

Blog Indonesia tentang IT, software dan telekomunikasi.
http://ejlp.blogspot.com

USSD
http://leibict.com/english/products/technologies/ussd.htm
http://belanja.rab.co.id/software/sms-gateway-ussd-sim-application

Pemrograman SMS
http://smsforum.net/
http://evan-leonardi.net/2008/09/02/tju-2308-divisors/#more-19
http://www.materna.com/nsc_true/EN/Home/Home__N.html__nnn=true

Teori Graph
http://evan-leonardi.net

NewLC Labs brings several years of experience in mobile application development to your projects.
http://www.newlc.com/

Blog menarik
http://kangpandoe.wordpress.com/
http://khuclukz.com/
http://diary.desihanara.com/search/label/Pesta%20Buku%20Jakarta%202008
http://just2live.blogspot.com/2008/06/nothing.html
http://antobilang.wordpress.com/2008/07/15/ketua-kelas/
http://evan-leonardi.net/category/algoritma/teori-algoritma/graph-teori-algoritma-algoritma/
http://imanbrotoseno.blogspot.com/
http://jarijariampuh.dagdigdug.com/category/anekdot/
http://law.desihanara.com/
http://einkampf.multiply.com/tag/ekonomi%20politik
http://hermansaksono.blogspot.com/
http://aryaperdhana.wordpress.com/
http://nonadita.com/2008/09/16/brilliante-blog-award-goes-to-1/#more-168
http://rumputpagi.tk/
http://temonsblog.blogspot.com/
http://jengjeng.matriphe.com/index.php/profil
http://ndorokakung.com/2008/06/21/pasangan-pecas-ndahe-3/
http://clipyoutube.blogspot.com/
http://www.topblogarea.com/

Bahasa Inggris
http://www.teaching-esl-to-adults.com/esl-acronyms.html

Foto Sejarah
http://ceritaindonesia.wordpress.com/2008/01/
http://anusapati.com

Soal-soal ACM
http://acm.tju.edu.cn/toj/contest/showp98_A.html

Foto Gallery
http://photo.net/gallery/

Koleksi G30S
http://www.progind.net/
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/110-e-book-bebas-untuk-transformasi.html
http://www.overseasthinktankforindonesia.com/2008/10/23/kami-ingin-pemakaman-yang-layak/

Photoshop
http://irenkdesign.wordpress.com/2008/10/16/photoshop-tutorial-%E2%80%93-membuat-ketupat/
http://sideduck.blogspot.com/2007/09/how-to-create-photoshop-brushes.html



Beasiswa
http://beasiswa.wordpress.com/beasiswa/
Belajar Bahasa Jepang

Belajar Bahasa Jepang

Dkutip dari blog tetangga : http://nihongo.blogdetik.com/lagu-ponyo/

Selepas pendidikan di SMA, saya meninggalkan kampung halaman serta Negara untuk sebuah tugas belajar di Luar Negeri. Bagi saya, yang meninggalkan kota saja sangat jarang, terasa berat saat harus pergi ke Negeri Oshin ini.

Meski begitu, Bahasa jepangku terasa tidak berkembang, Bahasa Jepangku serasa semakin hilang, lidah terasa sulit untuk melafalkan, serta sudah lupa untu menulis kanji dengan tegaki. Padahal 3 lembar (bahkan 4 lembar) sertifikat level 1 Proficiency Test Bahasa Jepang sudah aku pegang.

Untunglah, aku ada kesempatan untuk belajar, tetapi bukan lagi di kampus melainkan di Perusahaan. Inilah kesempatan untuk mengasah kembali Bahasa Jepangku, sekaligus menambah kosakata di Bidang Industri dan Teknologi.

Melalui Blog ini pula, aku coba untuk besdiskusi dengan teman-teman, sahabat di dunia maya untuk saling menambah.

Wassalam

-Mitsu=

Krisis Kredit Amerika, Kisah Kegagalan Sektor Finansial


Tulisan menarik untuk memahami krisis keuangan diambil dari :
http://janganserakah.com/2008/07/25/krisis-kredit-amerika/

Untuk memahami Credit Crisis yang sedang berlangsung di saat ini maka ada baiknya pertama-tama kita memahami dulu tentang bank dan ‘cara kerja’nya. Apa itu Bank? Meskipun Bank sudah menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari, mungkin hanya sebagian dari teman-teman pembaca blog ini yang menyadari bahwa sebuah Bank, pada ‘intinya’ merupakan suatu usaha penyewaan/rental. Pertanyaan natural yang timbul berikutnya adalah : ‘Apa yang mereka sewakan?’. Jawabannya adalah : Uang.

Meskipun pada zaman sekarang, kebanyakan bank menjalankan beberapa ‘kegiatan’ lain yang bisa menghasilkan keuntungan, pada awalnya Bank lahir dari ‘kegiatan sewa-menyewa’ uang (dan hingga kini pun, mayoritas bank tetap mengandalkan ’sewa-menyewa’ uang ini untuk mendapatkan keuntungannya). Dalam hal ini, bank akan ‘menyewa’ uang dari pihak yang memiliki uang yang tidak terpakai, dan lalu uang itu ‘disewakan’ kepada pihak yang membutuhkan uang. ‘Biaya sewa’ uang ini yang lalu kita kenal dalam kehidupan sehari-hari sebagai ‘Bunga’/interest.

Satu aspek yang menarik dari operasi ’sewa-menyewa uang’ yang dilakukan Bank, adalah adanya Gap/kesenjangan dalam kegiatan ’sewa-menyewa uang’ ini. Apa Gap/kesenjangan yang saya maksud ini?

Umumnya ketika bank ‘menyewa’ uang dari masyarakat, sewa yang mereka lakukan bersifat jangka pendek. Sebagai contoh, kita lihat ‘tabungan’. Setiap kali kita menabung, yang kita lakukan sebenarnya adalah menyewakan uang kita kepada bank. Tabungan ini sendiri merupakan ’sewa jangka pendek’, karena setiap saat uang tersebut bisa kita tarik (dengan kata lain ‘mengakhiri’ sewa-menyewa tersebut). Sama juga halnya dengan deposito. Deposito juga bersifat ‘jangka pendek’, dan umumnya hanya bertempo 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan hingga 12 bulan.

Sebaliknya, ketika bank ‘menyewakan’ uang tersebut (kepada para pengambil fasilitias kredit), sewa yang mereka lakukan umumnya bersifat jangka panjang. Contohnya kredit otomotif yang biasanya bertempo beberapa tahun, atau juga KPR yang di negara Amerika bisa berjangka hingga 30 tahun.

—–oOo—–

Apa konsekuensi dari kesenjangan ‘menyewa jangka pendek, menyewakan jangka panjang ini‘?

Di satu sisi, akibat kesenjangan ini, bank akan bisa menikmati keuntungan tambahan. Dalam ’sewa-menyewa uang’, semakin lama masa sewa uang, semakin besar resiko yang ditanggung oleh pemilik uang, misalnya saja resiko inflasi, resiko perubahan suku bunga, dll. Akibatnya, ’sewa’ uang jangka panjang akan lebih mahal dibandingkan dengan ’sewa’ uang jangka pendek. Contoh realnya, deposito yang berjangka 1 tahun umumnya akan memberikan bunga yg lebih tinggi daripada deposito 1 bulan. Dengan ‘menyewa jangka pendek dan menyewakan jangka panjang‘, maka berarti bank mendapat keuntungan karena mendapatkan dana dengan ‘murah’, sebaliknya meminjamkan uangnya dengan lebih ‘mahal’.

Di sisi lainnya, kesenjangan ini membuat bank menanggung resiko likuiditas. Ini disebabkan karena pihak yang ‘menyewakan’ uang kepada Bank bisa dengan mudah menarik uangnya dalam jangka waktu yang relatif singkat, sedangkan pihak Bank tidak bisa menarik uang yang ‘disewakannya’ kepada pengambil kredit dengan cepat.

Sebagai ilustrasi sederhana:

Misalkan saja ada 100 orang yang menaruh deposito 3 bulan @Rp 1 milyar di Bank JS. Dengan demikian bank JS berhasil menghimpun dana Rp 100 Milyar. Dalam keadaan normal, besarnya dana ini akan relatif stabil. Akan ada orang yang mencairkan depositonya, tetapi akan ada juga nasabah baru yang membuka deposito di sana.

Oleh bank JS, dana yang terhimpun ini lalu dikucurkan sebagai kredit. Karena ada peraturan perbankan yang dikenal sebagai “Reserve Requirement”, maka dana Rp 100 milyar yang telah dihimpun itu tidak bisa dikucurkan 100% sebagai kredit. Misalkan saja modal yang dihimpun hanya hanya diijinkan untuk dikucurkan 70%, sehingga dalam contoh ini, bank JS hanya bisa mengucurkan kredit sebesar Rp 70 milyar. 30% dana yang dihimpun (Rp 30 Milyar) harus disimpan sebagai cadangan likuiditas.

Oleh Bank JS, dana Rp 70 Milyar lalu dikucurkan sebagai kredit bagi seorang developer properti dengan jangka waktu 5 tahun.

—–oOo—–

Dalam keadaan normal, pengaturan seperti ini tidak menimbulkan masalah. Hal ini dikarenakan bahwa bunga deposito itu biasanya sangat kompetitif dan tidak berbeda jauh antar bank, sehingga orang pada umumnya tidak mempunyai insentif yang besar untuk memindah-mindahkan depositonya.

Tetapi kini bayangkan apa yang akan terjadi jika para nasabah kehilangan kepercayaannya kepada Bank JS, misalkan saja karena ada berita bahwa Bank JS mengalami kerugian yang sangat besar akibat kredit macet? Anggaplah misalkan 20% nasabah menarik depositonya sehingga terjadi penarikan dana Rp 20 Milyar. Dalam hal ini Bank JS akan tetap ‘aman’, karena memiliki ‘ban serep’ berupa cadangan likuiditas sebesar Rp 30 Milyar.

Bagaimana jika nasabah yang menarik depositonya mencapai 40%, sehingga dana yang ditarik dalam contoh ini adalah sebesar Rp 40 Milyar? Bank JS akan kerepotan mencari dana itu karena cadangan likuiditas mereka hanya sebesar Rp 30 Milyar. Mereka tidak bisa meminta si pengambil kredit untuk mengembalikan Rp 70 milyar yang mereka pinjam pada saat itu juga, karena memang perjanjian kreditnya adalah utk jangka panjang (dalam hal ini 5 thn). Akibatnya Bank JS pun akan terpaksa mencari pinjaman, misalkan ke bank lain.

Para pembaca blog mungkin bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika tersebar berita bahwa ‘Bank JS harus meminjam ke bank lain untuk membayar deposito nasabahnya‘ dan di Bank JS mulai terlihat antrian para deposan yang ingin menarik depositonya. Kepanikan meluas dan kini semua nasabah bank JS pun bergegas mencairkan depositonya. Pada saat itu, bank-bank lain pun akan was-was untuk meminjamkan uangnya kepada bank JS karena khawatir bank JS akan tumbang dan tidak bisa membayar pinjamannya. Akibatnya, bank JS tidak mempunyai alternatif untuk mendapatkan dana dan malah benar tumbang.

Skenario seperti ini dalam dunia perbankan dikenal sebagai ‘Classic Bank Run‘ dimana kepanikan menimbulkan kepanikan sehingga nasabah suatu bank ‘berebutan’ menarik dananya dari suatu bank hingga akhirnya bank itu tumbang akibat kesulitan likuiditas.

Dalam part pertama artikel ini, saya telah bercerita tentang kesenjangan ‘menyewa jangka pendek, menyewakan jangka panjang‘ yang menimbulkan resiko likuiditas sehingga bisa menyebabkan rontoknya sebuah bank. Kesenjangan ini sendiri kerap disebut sebagai Asset-Liabilities Mismatch. Istilah lain yang juga kerap dipakai untuk menggambarkan kesenjangan ini adalah Duration Gap. Permasalahan Asset-Liabilities Mismatch ini juga yang menjadi penyebab rontoknya perusahaan Bear Sterns bulan Maret lalu.

Dalam operasinya sebelum mereka tumbang, Bear Sterns sangat aktif dalam dunia CDO. Apa itu CDO? CDO adalah suatu obligasi yang berdasarkan kepada suatu Collateralized Debt (instrumen hutang yang terkait dengan suatu barang jaminan/kolateral). Contoh Collateralized Debt misalnya adalah KPR/mortgage. Bagaimana cara kerja CDO ini? Mari kita lihat sebuah ilustrasi sederhana.

Misalkan sebuah bank mempunyai dana yang bisa dikucurkan untuk kredit sebesar Rp 100 Milyar. Dana ini sendiri didapat dari tabungan masyarakat di mana bunga yang harus dibayar oleh bank untuk tabungan ini adalah 5%. Dana ini lalu dikucurkan bank seluruhnya tersebut untuk KPR 30 tahun, dimana dari KPR tersebut bank memperoleh bunga sebesar 9% (sehingga bank mendapat keuntungan 4%). Untuk menyederhanakan contoh ini, kita asumsikan bank tersebut tidak bisa menghimpun dana dari masyarakat lagi sehingga dengan demikian bank tersebut tidak mempunyai dana lagi untuk dikucurkan sebagai kredit. Dalam kondisi ini, bank tersebut mempunyai 2 alternatif :

Alternatif 1:

Bank tersebut memegang semua KPR yang telah dikucurkannya tersebut hingga jatuh tempo (30 tahun lagi). Dengan demikian bank tersebut akan menikmati keuntungan selisih bunga sebesar 4% dari dana Rp 100 Milyar itu selama 30 tahun. Tetapi perlu diingat bahwa dalam alternatif ini, Bank tidak bisa mendapat keuntungan lebih lagi karena seluruh dananya telah dikucurkan untuk kredit ini.

Alternatif 2:

Bank tersebut ‘mengemas’ berbagai KPR itu menjadi suatu obligasi CDO yang lalu dijual kepada para Investor. Untuk membayar bunga obligasi CDO ini, Bank tersebut akan memakai bunga yang diterimanya dari pembayaran bunga berbagai KPR tersebut. Misalkan saja obligasi CDO itu memberikan bunga sebesar 8,5%. Kita asumsikan CDO itu terjual semuanya, maka dengan demikian bank tersebut akan mendapatkan keuntungan selisih bunga hanya sebesar 0,5% dari Rp 100 Milyar. Ini karena dari pembayaran KPR, bank tersebut mendapat 9%, sedangkan yang dipakai untuk membayar bunga obligasi CDO hanya 8,5%.

Sekilas ini terlihat lebih kecil daripada keuntungan 4% di alternatif 1. Tetapi perlu diingat bahwa dalam alternatif 2 ini, Bank mendapatkan kembali Rp 100 Milyarnya (hasil dari penjualan CDO). Jika dana ini dikucurkan kembali seluruhnya untuk KPR 30 tahun, maka Bank akan kembali mendapatkan keuntungan selisih bunga 4%. Ditambah dengan hasil 0,5% dari CDO, maka kini keuntungan bank dari Rp 100 Milyarnya mencapai 4,5%. Jika proses ini diulang-ulang (KPR yang dikucurkan lalu dijual lagi dalam bentuk CDO), maka keuntungan Bank akan semakin meningkat.

Dengan melihat ilustrasi di atas, maka kita bisa memahami mengapa Bank begitu gencar memberikan KPR, mengemasnya menjadi CDO, menjual CDO tersebut dan lalu dana hasil penjualan CDO itu kembali dikucurkan sebagai KPR.

—–oOo—–

Ketika pasar CDO ‘mati’ karena pecahnya bubble sektor properti, berbagai institusi keuangan yang selama ini gencar menjalankan operasi semacam di atas pun ‘kelimpungan’. Mereka tidak bisa menjual CDO yang dimilikinya karena tidak ada pembeli yang berminat dan terpaksa ‘memegang’ sendiri KPR dan CDO tersebut di pembukuannya.

Pada kasus Bear Sterns, asset yang dipegang oleh Bear Sterns dalam bentuk KPR subprime maupun CDO sangat besar. Di sini efek ‘beracun’ Asset-Liabilities Mismatch mulai bereaksi. Para kreditor yang selama ini meminjamkan uangnya kepada Bear Sterns pun mulai was-was dan enggan meminjamkan uangnya. Mengapa demikian?

Misalkan saja kita mempunyai dana Rp 100 juta. Seseorang lalu ingin meminjam uang tersebut untuk keperluan usaha. Seandainya kita tahu bahwa orang itu memiliki asset senilai Rp 200 juta dalam bentuk emas batangan, maka kemungkinan besar kita tidak akan khawatir untuk memberikan pinjaman sebesar Rp 100 juta tersebut.

Sekarang kita ganti ilustrasinya. Bagaimana jika ternyata orang itu memiliki asset tetapi asset ini berbentuk koleksi Ikan Lohan yang dibeli oleh orang itu beberapa tahun lalu seharga Rp 200 juta?

Dalam kasus ini, kemungkinan hal yang terpikir oleh kita adalah : ‘Meskipun ikan lohan tersebut dibeli seharga Rp 200 juta, apakah benar sekarang harganya masih Rp 200 juta? Apakah masih ada pasar/market untuk ikan Lohan seharga itu? Jangan-jangan sekarang ikan tersebut hanya bisa dijual Rp 20 juta karena sekarang animo masyarakat terhadap ikan lohan sudah tidak seperti dulu.“

Dengan pertimbangan di atas, maka mungkin kita akan ragu untuk meminjamkan dana sebesar Rp 100 juta kepada orang tersebut. Jika sampai usaha orang itu gagal, maka kita hanya bisa menyita ikan lohannya yang harganya sudah tidak jelas, dan untuk menjualnya pun akan sulit karena pasarnya sudah sangat minim.

Ilustrasi “asset ikan Lohan” di atas menggambarkan suatu kondisi yang dikenal sebagai Mark to Market.

—–oOo—–

Kasus Bear Sterns pun tidak berbeda jauh dengan ilustrasi di atas. Asset CDO yang dimiliki oleh Bear Sterns bisa kita ibaratkan sebagai ‘ikan lohan’. Para kreditor ragu untuk meminjamkan uang kepada Bear Sterns karena mereka merasa bahwa nilai asset total Bear Sterns sudah merosot jauh karena sebagian besar asset Bear Sterns berbentuk ‘ikan Lohan’ (CDO).

Seandainya Bear Sterns tidak mengalami Asset-Liabilities Mismatch, maka problem di atas mungkin tidak akan terlalu parah. Tetapi Bear Sterns dalam operasinya meminjam uang dari kreditornya untuk jangka pendek, dan meminjamkan uang tersebut secara jangka panjang (dalam bentuk KPR). Ketika pinjaman jangka pendek dari para kreditor jatuh tempo, para kreditor tersebut enggan meminjamkan lagi uangnya kepada Bear Sterns. Bear Sterns pun dilanda kesulitan likuiditas, yang seperti kita tahu berujung pada dijualnya Bear Sterns kepada JP Morgan dengan harga ‘obral’.

Secara umum, problem Asset-Liabilities Mismatch memang dialami oleh banyak institusi finansial di Amerika. Sekitar 2 minggu lalu, saya sempat menulis tentang rontoknya bank Indymac Bancorp. Kasus inipun tidak jauh berbeda dengan kasus Bear Sterns. Para pengamat sektor finansial pun memperkirakan masih akan ada lagi korban yang timbul akibat Asset-Liabilities Mismatch ini.

Tulisan Ekonomi lain bisa dilihat di :
1. www.misbahulmunir.blogspot.com
2. http://fccerto.blogspot.com/
3. http://vierjamal.blogspot.com/
4. http://warungidic.hotgoo.net/weekly-predictions-f20/bumi-08-11-07-08-t73.htm
5. http://www.seputarsaham.com/
6. http://janganserakah.com
Perjuangan Honda

Perjuangan Honda

Diambil dari http://fccerto.blogspot.com/

"Banyak orang mengimpikan sukses. Bagi saya, sukses hanya bisa dicapai melalui kegagalan dan introspeksi berulang-ulang. Sesungguhnya, sukses merepresentasikan 1% dari pekerjaan Anda yang hanya bisa dihasilkan dari 99%yang dinamakan kegagalan." Itulah salah satu ungkapan terkenal Soichiro Honda, pendiri Honda Motor Company.

Tahun lalu, pendapatan imperium raksasa otomotif Jepang yang kini diperkuat 167.231 pegawai itu mencapai US$94,24 miliar (Rp866 triliun), dengan laba bersih US$5 miliar. Kemegahan bisnis itu dibangun Honda dengan merangkak dari bawah, melewati badai demi badai kegagalan.

Lahir di Hamamatsu, Shizuoka, Jepang pada 17 November 1906, Honda dibesarkan dalam keluarga miskin. Ayahnya, Gihei Honda, adalah seorang pandai besi yang mengelola bengkel reparasi sepeda, sementara sang ibu, Mika, adalah seorang penenun. Namun, sang ayah bisa mengerjakan bermacam-macam pekerjaan, bahkan menjadi ahli gigi jika diperlukan. Kepada anak-anaknya selalu ditekankan pentingnya etika kerja keras dan cinta pada hal-hal yang berbau mekanis.

Honda kecil belajar bagaimana menajamkan mata pisau mesin pertanian, selain tentu saja bagaimana membuat mainan sendiri. Kepada kakeknya, Honda selalu meminta diajak melihat bagaimana mesin penggilingan padi bekerja. Honda benar-benar menyukai dunia permesinan. Sampai-sampai di sekolah dia mendapat julukan 'si musang berhidung hitam'. Julukan ini kedengaran merendahkan, tapi sesungguhnya tidak. Malah cenderung bermuatan kekaguman. Julukan itu muncul karena wajah Honda selalu kotor gara-gara pekerjaan yang dilakukannya membantu sang ayah di bengkel pandai besi.

Berkat ketekunannya membantu sang ayah, pada usia 12 tahun, dia bisa menciptakan sepeda dengan model rem kaki. Pada usia 15 tahun, tanpa pendidikan formal yang memadai, Honda tiba di Tokyo untuk mencari pekerjaan. Dia mendapat pekerjaan memang, di sebuah bengkel bernama Art Shokai. Namun, bukan untuk mengurusi mesin, melainkan menjadi petugas kebersihan merangkap pengasuh bayi anak pemilik bengkel, Kashiwabara.

Namun, semangatnya untuk belajar mesin terus menyala. Dia memanfaatkan waktu saat bengkel tutup untuk sekadar mengamati mesin mobil. Dia kian bersemangat belajar mesin setelah menemukan buku tentang pengapian mesin di perpustakaan. Dia kumpulkan gajinya untuk meminjam buku itu. Sedikit demi sedikit, pengetahuannya tentang mesin bertambah dan suatu hari kesempatan itu datang, unjuk gigi mengurusi mesin mobil.

Majikannya terkagum-kagum ketika dia berhasil memperbaiki mesin mobil Ford model T keluaran 1908. Pada usia 22 tahun, dia dipercaya menjadi kepala bengkel Art di kota Hamamatsu. Di sana dia selalu menerima pengerjaan reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Setelah enam tahun bekerja, dia memutuskan pulang ke kampung halaman dan mendirikan bengkel sendiri pada 1928.

Honda mulai menapaki pijakan industrialnya pada 1935 dengan mula-mula memproduksi ring piston untuk mesin-mesin kecil. Hanya saja, ketika dia tawarkan ke sejumlah pabrikan otomotif, hasil karyanya tak dilirik, termasuk oleh Toyota. Ring piston buatannya dianggap tidak lentur. Kegagalan itu membuatnya jatuh sakit cukup serius.

Berhenti kuliah

Namun, dia segera bangkit. Dia berusaha mendapatkan ilmu tentang ring piston itu dengan kuliah di Sekolah Tinggi Hamamatsu, Jurusan Mesin. Siang hari, sepulang sekolah, dia langsung ke bengkel mempraktikkan pengetahuan yang didapatnya. Hanya saja, karena jarang masuk, dia dikeluarkan dari sekolah setelah dua tahun kuliah.

Berhenti kuliah tak membuatnya putus asa. Kerja kerasnya mulai membawa hasil pada 20 November 1937, ketika Toyota akhirnya menerima ring piston buatan Honda dan memberinya kontrak. Namun, batu ujian terus menghampirinya. Dua kali pabrik ring piston yang didirikannya hangus terbakar.

Bukan Honda namanya bila menyerah. Dia kumpulkan seluruh karyawannya dan memerintahkan mereka mengambil kaleng bekas bensol yang dibuang kapal Amerika Serikat (AS) untuk membangun pabrik. Pabrik dibangun, gempa bumi melanda. Tak ada pilihan dia jual pabriknya ke Toyota pada 1947. Honda kembali ke sepeda dengan kreativitas baru, menempelinya dengan motor kecil. Hasil kreasinya itu mendapat sambutan bagus.

Di bawah bendera Honda Motor Company yang didirikannya pada September 1948, berhasil memproduksi mesin-mesin kecil untuk digunakan di sepeda motor, lalu memproduksi sepeda motor utuh.

Berkat keandalan tekniknya yang luar biasa, dan dibantu pemasar cerdik Fujisawa, sepeda motor Honda akhirnya mampu mengungguli Triumph dan Harley-Davidson di masing-masing pasar lokalnya, yakni Inggris dan AS. Pada 1959, Honda Motorcycles membuka diler pertamanya di AS. Dan selanjutnya adalah sejarah 'Sukses 1%'. Kekuatan Honda berasal dari filosofi yang dibangun Soichiro Honda, yaitu menghormati individu dan tiga kebahagiaan.

Menghormati individu, seperti dijelaskan dalam misi dan visi korporat Honda Motor Company, mencerminkan keyakinan Honda akan kemampuan unik manusia. Penghormatan fundamental ini menentukan hubungan perusahaan dengan rekanan, pelanggan, penyalur, mitra bisnis dan masyarakat. Honda meyakini bahwa setiap orang yang terlibat dalam proses pembelian, penjualan atau penciptaan produk harus menerima perasaan bahagia dari pengalaman.

Bersama-sama ketiga kebahagiaan itu menghasilkan kebahagiaan afiliasi-perasaan positif yang muncul dari hubungan dengan Honda. Dengan begitu, diharapkan masyarakat menginginkan keberadaan Honda. Tiga kebahagiaan yang dimaksud itu adalah, kebahagiaan memproduksi, kebahagiaan menjual dan kebahagiaan membeli.
Itu artinya, kebahagiaan yang diharapkan ada pada diri setiap orang bukan semata-mata kebahagiaan mendapatkan sesuatu, tapi juga (dan yang terpenting) kebahagiaan memberikan sesuatu yang terbaik