Bye bye Mandala


Satu lagi maskapai tanah air di grounded, tidak memberikan layanan terbangnya lagi. Menurut informasi resmi di media, mulai hari ini Kamis 13 Januari 2011 Mandala berhenti beroperasi. Masih terbayang dalam tiga tahun terakhir naik Mandala, interior nya semakin bagus, dan pesawatnya sudah berganti dengan yang baru. Pun begitu jadwalnya sudah mendekati schedule, jarang terjadi keterlambatan. Namun itu semua tinggal kenangan, Mandala tidak kuat lagi membawa beban keuangannya mengangkasa.
Dulu sewaktu masih kecil di desa, selau teriak “kapal mabur, kapal mabur kek ono duwik kebur”, setiap melihat pesawat di udara. Kurang lebih artinya, pesawat berilah uang beterbangan. Bisa naik pesawat selalu menjadi idaman dan impian anak-anak desa seusia 12 tahunan. Cerita bagaimana rasanya naik pesawat, hanya di dengar dari para haji yang kembali dari tanah suci saja. Atau sanak saudara yang pulang dari transmigrasi ke Kalimantan atau Sumatera. Kami duduk bersila, makan kue oleh-oleh sambil mendengarkan cerita bagaimana rasanya naik pesawat. Katanya kalau melewati awan seperti melewati jalan berlubang. Kami mendengar dan membayangkan akankah suatu hari nanti bisa naik pesawat.
Di sekolah, diajarkan nama-nama lapangan terbang di berbagai kota di Indonesia. Juanda nama lapangan terbang di Surabaya, Halim perdana kusuma di Jakarta, Abdurahman Saleh di Malang, Ngurah Rai di Bali. Pikiran kami masa kecil tak menjangkau untuk apa nama-nama ini diajarkan. Mungkin supaya tidak tersesat kalau naik pesawat. Kalau dari Bali ke Surabaya berarti turun di Juanda, kalau turun di Halim Perdana Kusuma berarti sudah tersesat jauh. Seperti naik bus harus diingat mau turun dimana.
Kemudian diajarkan pula nama-nama perusahaan maskapai penerbangan. Pada saat itu cuma dikenalkan maskapai Garuda, Bouraq, Pelita, dan Mandala airline. Sedikit maskapai pada saat itu dan salah satunya Mandala.
Hingga suatu hari ada kesempatan naik pesawat untuk pertama kalinya. Pesawat yang pertama kali saya naiki bukan pesawat komersial. Pesawat ini milik TNI AU, biasanya hanya digunakan untuk TNI yang tugas atau keluarga golongan colonel ke atas. Naiknya dari pangkalan TNI Juanda, letaknya dekat lapangan terbang komersial Juanda, tapi sedikit terpisah. Kalau mau naik saat itu bayar pass naik Rp 50 ribu dari Juanda ke Jakarta. Ongkos yang sangat murah saat itu, karena harga resmi pesawat komersial Rp 500 ribu. Namun jangan harap kita dilayani pramugari yang cantik-cantik, setelah naik kita akan duduk berhadap-hadapan dan bersandar di dinding pesawat. Seperti kalau kita naik angkotme atau naik bemo. Dan sesekali kita bisa melihat isi cockpit, karena antara penumpang dan ruang cockpit hanya ditutup dengan kelambu hijau. Suara mesin pesawat meraung-raung sangat kedengaran, jadi untuk pertama kalinya harus menutup telinga bagi yang tidak terbiasa. Setelah satu jam akhirnya mendaratlah di Halim Perdana Kusuma. Sebuah Bandar udara yang sekarang dikhususkan untuk TNI saja bukan lagi Bandar udara komersil. Letaknya termasuk dalam kota Jakarta sehingga begitu mendarat langsung bisa beraktivitas ke tempat tujuan.
Sampai akhirnya tahun 2000 an eranya low cost carrier, pesawat terbang berbiaya rendah. Sejak itu saya tidak pernah lagi naik pesawat terbang “khas” TNI lagi, tapi berganti pesawat terbang komersil. Masih ingat masa itu beragam maskapai terpampang di papan keberangkatan. Ada Lion air, ada Karina, ada Bouroq , Sempati Air, Indonesia Air dan masih banyak lagi.
Namun tidak lama kemudian satu per satu berhenti terbang. Tak kuat akan ganasnya persaingan. Mulai dari Bouraq, Awair, Sempati, Indonesia Air sampai maskapai yang terkenal dengan penerbangan terpanjangnya jurusan Juanda-Akhirat, Adam Air.
Memiliki pesawat dan mampu mengoperasikan menjadi maskapai komersil memang menggiurkan. Dalam satu jam saja dalam penerbangangan Surabaya-Jakarta sudah bisa mengumpulkan uang 50 juta, apalagi kalau dalam satu hari ada lima atau enam destinasi tujuan, wow ada berapa ratus juta bisa terkumpul. Dan dengan struktur Negara kita sebagai Negara kepulauan selalu menjanjikan keuntungan untuk industri penerbangan. Namun bisnis dan perancangan memang sungguh berbeda, dan satu per satu maskapai kita tutup. Hari ini Mandala pun menghentikan operasinya.
Lain di kita lain dengan negeri tetangga. Negara Jiran Malaysia sedang bergairah Low Cost carriernya. Antara satu negeri (baca : propinsi) dengan negeri yang lain mulai dibuka airport-airport baru. Padahal luasnya satu negeri hanya seluas karesidenan di Indonesia. Ada rute-rute pendek yang dilayani penerbangan murah ini. Mereka berpacu untuk kembali menjadi hub / penghubung penerbangan murah Asia. Sudah lama mereka mengincar untuk mengalahkan Changi Singapura, dan menjadi penghubung penerbangan murah untuk tujuan Negara-negara di Asia.
Hampir tiap bulan selalu dibuka jalur baru, dan tentu saja juga harga yang murah untuk reservasi jangka lama. Setelah Bandung baru-baru ini juga dibuka penerbangan Air Asia langsung KualaLumpur ke Balikpapan, dan Kuala Lumpur –Makasar. Belum lagi propinsi-propinsi di Sumatera juga dilayani penerbangan FireFly, penerbangan murah lainnya selain Air Asia.
Ada pertanyaan menarik, mengapa di sini berguguran sedangkan di Negara tetangga justru sedang tumbuh?
Ada hal menarik, bila kita cermati. Yaitu integrasi pemerintah dan dunia usaha. Salah satunya adalah airport tax. Saya agak kesal kalau setiap kembali dari Malaysia hanya dikenakan RM 25 untuk airport tax nya atau setara dengan sekitar 70 an ribu, sedangkan kalau dari Juanda kita harus membayar 100 % yakni Rp 150 rb. Seringkali harga peron pesawat ini lebih mahal daripada harga tiket saya yang hanya RM 10. Akankah kita berubah, ataukah kita akan melihat lagi satu per satu maskapai kita tergrounded dan kita hanya menjadi penumpang

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »