Web Desktop

Web Desktop

Dskusi dengan mahasiswa tentang topik TA yang berhubungan dengan RIA, ingin mencatat alamat-alamat web yang akan mewarnai masa depan.
Alamat itu antara lain :
1. http://www.parleys.com/
2. http://www.mygoya.de/us
3. http://jooce.com/
4. http://www.fanbox.com/socnet/
Menulis - Kurnia Effendi

Menulis - Kurnia Effendi

Mengkliping beberapa pengalaman penulis terkenal yang dituliskan di blog, banyak cerita dan cara yang bisa dicontoh . Berikut ini kliping tulisan ari Kurnia Effendi dari http://sepanjangbraga.blogspot.com

Bagaimana Kurnia Effendi Menulis?

Proses Kreatif Kurnia Effendi

KOLEKSI JUDUL

Sampai saat ini, saat menulis esai ini, aku membuat cerita pendek atau cerita panjang, selalu dimulai dengan "judul". Mungkin tidak akan berubah, karena agak berlebihan jika kukatakan belum berubah. Cara itu tidak sengaja kulatih, bukan pula merupakan jalan terakhir setelah gagal dengan cara yang lain. Sama sekali tidak. Itu adalah cara pertama yang kemudian menjadi - setelah tahu namanya: - proses kreatif.

Bertahun-tahun yang lalu, ketika diwawancara oleh redaktur majalah remaja, dan terlontar pertanyaan: Bagaimana biasanya kamu menulis cerpen? - aku tidak perlu memikirkan jawaban. Saya mulai dari judul, demikian jawabku. Dan memang seperti itu yang terjadi. Dalam dompetku suka tersimpan selipat kertas, yang kutulisi beberapa judul, entah cerpen atau cerber. Pada saat judul itu kutuliskan, kadang-kadang belum terlintas kisah apa pun. Belum terpikir serangkai cerita, belum terbentang tuturan atau alur nasib seorang tokoh. Sebuah frasa atau kelompok kata yang tiba-tiba melintas, mempesona pikiran dan perasaan, segera ku'tangkap', kutulis atau kuingat, selanjutnya menjadi 'biji-biji' yang tersimpan dalam 'tanah gembur' proses kreatif. Ada yang langsung tumbuh menjadi sosok cerita, banyak pula yang terus terlelap menunggu secercah cahaya gagasan yang kelak membangunkannya.

Mungkin ini menjadi semacam keberuntungan, bahwa aku menulis dari sisi yang - menurutku - paling tepat. Mengapa? Karena judul adalah kata atau kalimat yang dibaca pertama kali oleh 99,99% pembaca. Untuk jenis bacaan apa pun. Kadang-kadang, ketika seseorang mendapatkan sebuah majalah di ruang tunggu dokter, misalnya, secara highlight akan membuka lembar demi lembar untuk menemukan judul yang menarik minatnya sebelum membaca lebih jauh. Bahkan seandainya aku menulis sebuah novel, atau cerpen, yang diawali dengan: Tanpa Judul; itu pun sebuah judul!

Apakah kusadari sejak awal bahwa judul itu penting? Ternyata tidak. Itu semacam refleks, impulsif, atau kebiasaan yang tidak diniatkan seperti ketika seseorang mencoba mendisiplinkan sesuatu. Tiba-tiba saja berkelebat. Tertangkap. Melekat. Andaikata aku sangat percaya terhadap daya ingat, mungkin tidak perlu mencatat. Tapi aku cukup senang dengan sesekali membaca koleksi judul-judul itu di kala senggang. Oleh sebab itulah, pada kertas kecil, atau apa saja yang bisa dibubuhkan tulisan: kutorehkan judul-judul itu.

Misalnya, beberapa yang kuingat: Segenggam Melati Kering, Tetes Hujan Menjadi Abu, Berjalan di Sekitar Ginza, Anak Arloji, Kincir Api, Menemani Ayah Merokok, Laras Panjang Senapan Cinta, Abu Jenazah Ayah, Tilas Cemeti di Punggung... Hampir semua dimulai dari kelebat aksara khayali atau bunyi yang tertangkap hati. Kadang-kadang ketika sedang bercakap-cakap dengan teman, lalu terangkai dari percakapan itu sebuah komposisi kata yang menarik, nah! Lalu seperti ada lampu menyala. Byar! Wah, ini asyik untuk judul!
Melalui tuturan ini, hendak kubongkar rahasia. Seperti kuungkap tadi, kadang-kadang aku tak punya cerita apa pun sebelumnya. Tetapi, justru sebuah judul sanggup menghamparkan kisah. Bahkan, secara agak tak terduga, ternyata judul itu pintar menghimpun cerita. Maka judul itu akhirnya mendapat tugas sebagai penyimpan gagasan sebuah kisah, baik untuk karya prosa maupun puisi. Dengan mengingat sebuah judul, seolah-olah terurai jalan hidup seorang tokoh dengan pelbagai konflik di dalamnya. Kukira, itulah yang umumnya terjadi pada riuh-rendah benakku dalam proses menulis karya sastra.

CURAH KISAH

Sewaktu-waktu, ketika sedang bersamaku, jangan heran jika kucurahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire angan-angan. Aku akan menyampaikan semacam fragmen: mungkin segerumbul percakapan para tokoh, atau gambaran perilaku, bahkan semacam abstraksi hikayat, atau hal-hal yang menjadi tumpuan tema. Mengapa demikian? Jika suatu ketika aku mau menulis, dan kebetulan lupa harus mulai dari mana, aku tinggal menelepon kawan yang sempat mendengarkan 'petikan' kisahku.

Pernah di suatu makan malam dengan dua sahabat di café, aku menceritakan tentang perilaku seseorang yang sedang patah hati yang dipandang tak masuk akal oleh tokoh lainnya... Jadi jangan heran jika suatu saat nanti aku menanyakan pada kalian detil yang mungkin terlepas dari ingatan. Begitulah. Tak ada rasa cemas, andai gagasan itu kemudian dicuri oleh sang pendengar yang kebetulan (dan biasanya) juga seorang pengarang. Jika memang diambil-alih, aku akan gembira karena ternyata ide yang berasal dari kepalaku itu menarik juga dibuat cerpen oleh orang lain. Tetapi, boleh jadi, cara kita bercerita berbeda.

Sejak menggunakan mesin ketik, aku tak pernah membuat konsep terlebih dulu. Langsung tulis saja. Dulu, untuk menulis cerpen 8 halaman, kadang-kadang membutuhkan lebih dari seratus lembar kertas. Karena selalu ada suntingan atau perubahan setiap kali dibaca ulang. Namun kini dengan komputer, jika salah ketik mudah dihapus. Mudah dipindah, digandakan, dan yang lebih terasa manfaatnya: dapat disimpan.

Dengan kemampuan alat seperti itu, kebiasaanku mengoleksi judul, semakin terasa hikmahnya. Kini aku ke mana-mana membawa disket, yang di dalamnya telah siap sepuluh file dengan masing-masing judul. Lantas bagaimana caraku bekerja? Duduk di depan komputer, buka file pertama, misalnya: Puisi di Bangku Taman. Eh, baru lima paragraf mendadak buntu, segera kubuka file kedua: Mengapa Hiuma Berduka? Hei, itu fabel, cerita buat anak-anak! Tak jadi soal. Entah mengapa, ada saja yang secara otomatis mengubah diri di rongga benakku, sehingga yang muncul adalah fantasi kanak-kanak. Demikian seterusnya.

Jadi, jika aku membekal lima disket (mungkin kelak segera kuganti flashdisc, agar lebih banyak menyimpan calon naskah) ada berapa calon cerpen, puisi, novelet, di dalamnya? Ayo lakukan seperti aku! Pasti asyik. Dan tak perlu menyepi ke balik gunung atau ke dasar samudera. Karena aku bukan pengarang menara gading. Cukup menempati koridor yang menghubungkan antara ruang tamu dengan ruang makan. Sambil sesekali nonton tivi, atau ngajari PR anak-anak. Atau di meja samping kantor ketika jam kerja belum mulai (sering datang kepagian karena ada kewajiban mengantar anak-anak yang masuk sekolah jam tujuh). Atau di sebuah warnet dekat hotel tempat menginap ketika sedang tugas keluar kota. Yang paling kerap terjadi, aku menulis pukul 22.00 sampai tengah malam.

SELALU "YA"

Di tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. "Halo." Setengah berbisik. "Lagi sibuk?" suara di sana. "Lagi meeting, apa kabar?" Ujung-ujungnya: "Ada stok naskah cerpen nggak? Buat edisi Oktober, sepuluh hari selesai, ya?" Tentu kujawab: "Ya." Mengapa tidak? Dengan ucapan 'ya', aku yakin ada semacam keajaiban yang bekerja ekstra di seluruh kepalaku. Judul-judul berlintasan seperti meteor. Tapi, tentu aku meneruskan pekerjaan dulu sampai selesai jam kantor. Dengan ucapan 'ya', seluruh peri yang beterbangan di udara meniupkan pelbagai gagasan. Nah: "Percakapan Sepasang Peri..." Haha, bagus nggak kedengarannya?

Itu stimulus yang datang dari luar. Setidaknya, istilah produktif tak hanya digenjot dari dalam diri sendiri. Ada saja yang kemudian meminta cerpen. Dan ada saja majalah atau surat kabar yang tahu-tahu telah lama tidak kujenguk dengan karya. Mungkin Matra, Gadis, Femina, Lampung Post, Suara Merdeka, Jurnal Cerpen, atau Bee Magazine... Ya. Ternyata aku tidak melulu menulis untuk sastra koran. Untuk majalah Cinta tentu harus cerita remaja. Ya sudah. Aku terus menyambar-nyambar ke pelbagai segmen pembaca. Nggak dosa, kan? Justru asyik, lho! Apalagi anakku sudah tiba usia remaja, saatnya memberi mereka bacaan yang baik. Menurutku, tentu.

Setelah pernah menulis di Kompas dan Horison, ternyata aku enjoy aja mengirimkan naskah ke tabloid milik sebuah radio swasta di Jombang. Kupikir, mereka yang ada di ujung pulau atau dikepung pegunungan juga perlu membaca cerpenku. Redaksinya menelepon, meminta, ya aku buatkan. Tidak pilih-pilih. Juga harus bagus. Menurutku, tentu.

Untuk membuat diriku 'malu', aku selalu membuat target di awal tahun. Misalnya tahun ini aku akan menulis 48 cerpen, 200 puisi, satu novel, 12 esai. Kutulis dan kukirim melalui sms kepada para sahabat ketika tiba tanggal 1 Januari. Dan menjelang Desember, aku mulai menghitung prestasi. Apakah tercapai? Apa pun hasilnya, kukirim melalui sms juga kepada sahabat yang pernah menerima informasi target. Sebagai evaluasi diri. Mudah-mudahan para sahabat yang selalu menerima informasi itu tidak bosan. (Kan tinggal pencet delete, sms itu terhapus). Seandainya luput terlampau banyak, tentu aku malu dan kembali mengejar di tahun berikutnya.

Jadilah pengrajin! Kata Zen Hae: kita ini hanya si tukang cerita. Boleh jadi demikian. Tetapi, seseorang yang telah memiliki ketrampilan teknis seperti Seno Gumira, Arswendo, dan Putu Wijaya, bisa menjadi pengrajin yang berkualitas. Mengapa? Karena keluasan wawasan mereka, di samping memang sudah terlalu piawai menangkap ilham. Dengan kata lain, ilham itu tidak ditunggu. Tetapi dikejar!

SIHIR BRAGA

Dulu sekali, waktu masih kuliah di Bandung, ada sejenis 'hantu' kalimat yang selalu berkelindan dalam rongga benakku. Begini kira-kira: Tiga hari yang lalu, aku menerima fotomu, close up dan berwarna. Tadi pagi ibumu mengirim telegram yang mengabarkan bahwa engkau telah tiada.

Dua kalimat itu terus saja terngiang, bahkan mungkin tercetak semacam cukil kayu di batok kreatifku. Apakah itu yang disebut obsesi? Ini harus jadi cerpen! Ini harus memenangkan lomba! Lalu aku agak bimbang dengan judul yang telah berkelebat. Catatan Sepanjang Braga atau Kenangan Sepanjang Braga? Lantas kutanya pada sahabat Acep Zamzam Noor, bagaimana menurut pendapat dia. Ia menjawab lugas: "Potong saja yang tak perlu. Sepanjang Braga.Itu bagus sekali."

Cerpen itu, Sepanjang Braga, kemudian memenangkan juara pertama lomba cerpen majalah Gadis tahun 1988. Itu jauh di masa lalu. Kini, ternyata aku telah memiliki empat versi cerita "Sepanjang Braga". Ada apa dengan Braga? Mengapa aku selalu merasa wajib melintasi jalan itu setiap kali berkunjung ke Bandung? (sekarang aku tinggal, berkeluarga, dan bekerja di Jakarta).

Mungkin Braga memang menyimpan masa silam Bandung, dekat dengan aroma kolonial dan seni, juga dekat dengan peristiwa bersejarah semacam KTT Asia Afrika. Hampir sama dengan ikatan chemistry seseorang terhadap Malioboro di Yogya, misalnya. Atau Jalan Sabang di Jakarta. Atau Jalan Somba Opu di Makassar. Mungkin. Tapi demikianlah perasaanku terhadap Braga.

Itu kusebut ilham yang membius. Yang menerbitkan rasa haru. Dan perasaan seperti itu, dulu, sanggup membuatku tiba-tiba ingin pulang untuk menulis padahal sedang jalan bersama seorang kawan. Atau terpaksa tidak kuliah demi mengalirnya banjir cerita untuk menjadi halaman-halaman prosa.

SUMBER ILHAM DAN BUKU

Selalu terngiang ucapan Joni Ariadinata yang meminta cerpen-cerpenku untuk dibuat buku antologi pribadi. Buku? Wah, apakah sudah saatnya? Itu tahun 2002. Begitulah, pada tahun 2004, terealisasi 2 buku sekaligus: Senapan Cinta (Penerbit Kata-Kita) dan "Bercinta di bawah Bulan" (Metafor Publishing). Pada tahun 2005 menyusul 2 buah lagi: Aura Negeri Cinta (Lingkar Pena Publishing House) dan Kincir Api (Gramedia). Sementara di tahun 2006, aku berhasil menerbitkan novel remaja Selembut Lumut Gunung (Cipta Sekawan Media).

Kadang-kadang aku tidak menyangka dengan momentum seperti itu. Mungkin karena banyak uluran tangan sahabat juga yang membuat buku-buku itu lalu menyebar sebagai pemberitaan maupun koleksi.

Aku bekerja di perusahaan otomotif (ATPM) Suzuki Mobil. Sangat beruntung karena aku berada pada bagian pengembangan showroom seluruh Indonesia. Setidaknya 3 kali keluar kota dalam sebulan. Setidaknya berkali-kali mengunjungi wilayah-wilayah baru di pelbagai daerah. Jadi sudah terbiasa, sejak dari bandara aku sudah sms kepada para sahabat (jurnalis, penyair, budayawan, redaktur, seniman) di daerah tujuan. Saat aku keliling daerah itulah, kujumpa beribu tunas cerita. Tak hanya melihat sunset di pantai Pare-Pare, atau memandangi tamasya ikan di dasar laut Bunaken melalui Katamaran. Bertemu dengan kawan-kawan sastrawan, jurnalis, dan seniman di daerah, membuat hidup ini sangat berwarna. Ternyata, ketika ide mampet, ngobrol dengan kawan-kawan itu seperti charging baterei dalam pikiranku. Dari sanalah ilham mengalir. Tinggal: sempat atau tidak menuliskannya di antara waktu yang padat oleh kegiatan formal kantor?

Jadi, mohon jangan menolak jika sewaktu-waktu kalian kutelepon, hanya untuk sekadar makan malam di TIM, atau sama-sama menikmati sate kambing di Bukafe milik Mas Kiki di Duren Tiga. Tentu tak ketinggalan berusaha hadir pada acara-acara yang digelar oleh toko buku MP Point Book, Selasar Omah di Empu Sendok, Bentara Budaya atau PDS HB Jassin dan Teater Utan Kayu. Entah kenapa, otakku jadi berbinar-binar.

Selalu kupanas-panasi kawan untuk terus menulis. Kubagi alamat email semua redaktur kepada teman sejawat. Pokoknya, mari kita menulis! Agar dunia bacaan kita makin ramai. Dan tentu akan melahirkan sejumlah buku-buku baru lagi. Jangan pikirkan award atau pernghargaan dulu. Yang penting batin kita puas dan orang lain beroleh pencerahan.

Dari satu buku (yang disiapkan demikian lama) ke buku yang lain, ternyata mengalir saja. Itulah yang kusebut momentum tadi. Dan tak terhindarkan dari campur tangan tulus orang lain. Maka sebaik-baik pengarang adalah (menurutku, tentu) yang memiliki banyak jaringan, dan saling berkomunikasi secara tulus dan saling berbagi.

Kurnia Effendi

Perjuangan Menjadi Penulis - Indra Piliang

Perjuangan Menjadi Penulis - Indra Piliang

Berikut ini kisah yang diambil dari perjuangan dua orang penulis yang telah berhasil. Satu penulis tentang kisah-kisah yang berlandaskan agama dan satunya adalah penulis politik. Menarik membaca perjuangan M. Shodiq Mustika dan Indra Piliang

Indra Piliang

Mengapa Saya Jadi Penulis?

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 12:37 pm

Tulisan ini saya persembahkan kepada siapapun yang ingin jadi penulis…

Teknis Penulisan Ilmiah Populer: Catatan Pengalaman

Pendahuluan:

Banyak pertanyaan yang diberikan kepada saya tentang proses kreatif sebagai seorang penulis. Rata-rata saya menulis 60-70 artikel dalam setahun, terutama sejak tahun 2001. Artinya sudah terdapat sekitar 300-350 artikel yang sudah saya tulis. Kalau dijadikan buku kumpulan artikel, sudah bisa menjadi 7 sampai 10 buku, sesuatu yang belum saya lakukan. Salah satu “penilaian” saya masuk ke CSIS adalah juga karena produktifitas penulisan ini.

Lalu, dari mana saya memulai menulis. Yang saya ingat, kebiasaan saya menulis dimulai lewat catatan harian (1991-1996). Saya sudah menulis sejak pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta pada tahun 1991, beberapa bulan sebelum hasil Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri diumumkan. Saya mengikuti UMPTN di Padang, tepatnya kampus Universitas Bung Hatta. Tiga pilihan studi saya waktu itu adalah Jurusan Meteorologi dan Geofisika Institut Teknologi Bandung, Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Saya diterima di Jurusan Sejarah FSUI.

Karena pernah memenangkan juara tiga lomba bahasa Inggris di Sekolah Menengah Umum 2 Pariaman, saya menulis catatan harian saya dalam bahasa Inggris. Namun, lama-kelamaan, kebiasaan itu saya hilangkan. Ketika menjadi aktivis kampus, saya terombang-ambing dengan kebencian terhadap Barat, termasuk hegemoni budayanya. Akibatnya, saya juga membenci bahasa Inggris. Sesuatu yang dampaknya luas sampai sekarang.

Catatan harian itu mengantarkan saya kepada banyak imajinasi tentang dunia. Buku-buku yang saya baca, tempat-tempat yang saya kunjungi, orang-orang yang saya temui, sampai hubungan percintaan yang timbul-tenggelam, menghiasi catatan harian saya. Semuanya masih tersimpan sampai sekarang. Karena sering mencatat orang-orang yang ada di sekitar saya, saya menjadi lebih paham tentang bagaimana cara berpikir mereka. Sebagian dari orang-orang itu sekarang menjadi terkenal, bahkan jauh sebelum reformasi. Rata-rata para aktivis dari berbagai kampus, terutama dari UI. Sebut saja Fadli Zon, Zulkiefliemansyah (sekarang anggota DPR dari PKS), Rama Pratama (sekarang anggota DPR dari PKS), Nusron Wahid (sekarang jadi anggota DPR dari Partai Golkar), Mustafa Kamal (sekarang anggota DPR dari PKS), Eep Saefullah Fatah, Fahri Hamzah (sekarang anggota DPR dari PKS), Wilson (pernah dipenjara karena dituduh menjadi pelaku Gerakan 27 Juli 1996), dan lain-lain.

UI ketika saya masuk adalah ladang pergulatan intelektual yang sangat intens. Jurusan saya, misalnya, terbagi kedalam dua garis ideologi: merah dan hijau. Pertarungan kedua kelompok ideologi ini bukan hanya terbatas pada wacana, tetapi juga dalam aktivitas kemahasiswaan, termasuk perebutan posisi dalam lembaga mahasiswa intra kampus. Kalaupun kemudian sejumlah nama itu akhirnya terus berseberangan ketika di luar kampus, hal itu tidak bisa dilepaskan dari pengalaman intelektual mereka. Satu kelompok melahirkan Partai Rakyat Demokratik, kelompok yang lain menjadi anak-anak emas dalam Partai Keadilan Sejahtera. Namun ada juga yang ikut ke Partai Golkar atau menjadi sahabat dari para jenderal.

Orang yang saya kagumi kala itu ada empat.

Pertama, Arfandi Lubis (almarhum). Dia senior saya di jurusan sejarah. Dia pengagum Tan Malaka tulen. Kanker usus yang akut menjadi penyebab kematiannya. Dari dialah saya banyak berkenalan dengan wacana kiri, lalu mengoleksi buku-buku kiri yang berwarna merah. Dia juga yang meminjamkan saya buku Dari Penjara ke Penjara-nya Tan Malaka.

Kedua, Fadli Zon, teman saya satu angkatan dari Jurusan Sastra Rusia. Talentanya luar biasa, juga jaringan pergaulannya di luar kampus. Dialah sebetulnya yang “memaksa” saya untuk menulis, ketika dia sudah muncul sebagai penulis terkenal di zamannya. Sebelum kemudian dikenal sebagai sahabat Prabowo Subianto, Fadli adalah penulis esai yang bagus, kolom yang menggelitik, dan makalah yang kaya dengan buku.

Ketiga, Mustafa Kamal. Dialah sosok yang waktu itu mengingatkan saya kepada Natsir muda. Dalam organisasi, dia banyak memberikan ketauladanan, begitu juga dalam hal pengayaan keislaman.

Keempat, Eep Saefullah Fatah. Sekalipun berbeda kampus, saya sering ketemu dalam panggung seminar, baik ketika saya menjadi notulis, moderator, lalu lambat laun mendampinginya sebagai pembicara. Eep punya kemampuan berbahasa Indonesia yang sangat baik, juga menjelaskan sesuatu yang rumit dengan logika yang runtut.

Sebetulnya, jauh lebih banyak lagi kawan, dosen, senior, dan junior yang mempengaruhi saya. Kampus adalah tempat yang hangat. Selalu saja tersedia banyak orang-orang baik, jauh lebih banyak dari yang potensial menjadi jahat. Beragam kisah, ucapan, sampai pertengkaran dan perdebatan dengan orang-orang itu masuk ke dalam catatan harian saya. Saya menulis sampai dini hari di dalam kamar kos yang lembab dan kumal. Saya waktu itu adalah anak muda yang kurus kering, berpenyakitan, miskin, dan sering mengenakan pakaian yang tidak layak. Kerah baju saya – yang diingat oleh pacar yang kemudian menjadi istri saya – selalu saja berlubang saking lamanya kena keringat dan tidak diganti.

Kenapa saya menulis catatan harian? Terus terang saya juga terpengaruh oleh tiga buku harian. Pertama, Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie. Buku ini betul-betul menjadi kumal, penuh catatan pinggir dari saya, lalu hilang dan saya beli lagi. Kedua, Dari Penjara ke Penjara Tan Malaka. Pengalaman membaca buku ini kadang bercampur dengan kecemasan. Bagaimana tidak? Buku ini adalah buku terlarang waktu itu, sehingga kalau membacanya sedapat mungkin tidak ada yang tahu. Ketiga, Pergolakan Pemikiran Islam Ahmad Wahid, salah satu peletak dasar dari liberalisme Islam di kalangan anak-anak muda Himpunan Mahasiswa Islam. Dari buku-buku yang saya baca dan koleksi, ada sejumlah teman dekat yang menyebut saya “Hijau Semangka”: di luarnya hijau, tetapi di dalamnya merah. Yang jelas, saya tidak dalam posisi “ideologis” tertentu. Saya hanyalah anak rantau, baik dalam artian fisik, atau pemikiran.

Dengan modal mesin tik bekas yang saya beli di Manggarai, Jakarta Selatan, tiap malam selalu diisi dengan tak-tik-tok di kamar kos saya di kawasan Lenteng Agung. Semula, saya menulis apapun dengan tangan, lalu saya pindahkan ke kertas putih dengan mesin tik kalau ada uang untuk membeli kertas dan tinta. Sering sekali ketikan itu tidak bisa dibaca, saking tipisnya tinta yang digunakan. Dari sana lahir puisi, cerita pendek, sampai satu dua novel yang tidak rampung-rampung. Saya tidak tahu kemana semua yang saya pernah tulis itu sekarang, karena seringnya pindah kos. Harta berharga yang pernah saya miliki, lalu kalau teringat selalu menimbulkan penyesalan.

Menjajakan TulisanSemula, hanya teman yang paling dekat yang tahu saya punya catatan harian, kumpulan puisi, sampai cerita-cerita pendek. Aktivitas yang semakin banyak di luar kuliah, pada akhirnya memaksa saya untuk menulis lebih “ilmiah”. “Kampus” pertama saya dapatkan dalam Kelompok Studi Mahasiswa UI Eka Prasetya. Di sinilah saya belajar penelitian di luar penelitian sejarah. Di KSM UI ini juga saya tampil sebagai notulis, moderator, akhirnya pembicara. Ketakutan saya untuk berbicara di depan orang banyak mulai pelan-pelan pudar. Sejak kecil sampai sekolah menengah saya memang punya hambatan mental, selalu berkeringat dingin dan berdebar-debar ketika hendak berbicara. Saya gagap. Tapi ayah saya membalikkan dengan kalimat: “Kamu gagap karena otak kamu lebih cepat berpikir, ketimbang mulut kamu mengucapkannya!”

“Kampus” kedua saya adalah pers mahasiswa, yakni Suara Mahasiswa UI dan tabloid Ekspresi FSUI. Saya ingat, laporan saya sebagai reporter tentang HIV-AIDS ditolak oleh pemimpin redaksi Suara Mahasiswa kala itu, Ihsan Abdussalam – yang kini juga jadi penulis. Saya harus memulai lagi belajar tentang 5W-1H. Untunglah, ketiga gagal menjadi Ketua Senat Mahasiswa UI, saya banyak menyediakan waktu untuk KSM UI dan Suara Mahasiswa UI. Karena sudah senior, saya punya lebih banyak kebebasan untuk “memasukkan” tulisan atau pemikiran saya ke media kampus itu, kalau perlu mengeditnya langsung di Macintosh yang dimiliki oleh Suara Mahasiswa UI, agar pasti masuk.

Bantuan paling signifikan datang dari mata kuliah Penulisan Populer yang diselenggarakan oleh Jurusan Sastra Inggris FSUI. Pengajarnya adalah sastrawan Ismail Marahimin. Metode pengajarannya unik, yakni para mahasiswa harus menulis satu per minggu yang akan dipresentasikan dan “dibantai” dalam jam-jam pelajaran yang membuat bulu kuduk merinding. Banyak mahasiswa yang hilang di tengah jalan waktu itu, karena takut “dikerjai” oleh sang dosen. Tetapi, satu hal yang disampaikan oleh Pak Ismail kala itu masih saya ingat. “Kalau anda lulus mata kuliah ini, itulah modal hidup anda!” Fadli Zon, Helvy Tiana Rosa, lalu sejumlah redaktur pers sekarang setahu saya lulus dalam mata kuliah ini. Dua semester saya ikut mata kuliah ini dan keduanya mendapatkan nilai A. Saya masih tidak tahu, bagaimana mendapatkan kembali seluruh tulisan yang saya pernah tulis, masing-masing 1 per minggu dalam satu tahun kuliah bersama Pak Ismail itu. Saya kehilangan copy-nya. Tulisan-tulisan itu mulai dari fiksi sampai non fiksi. Saya ingat, ada satu-dua cerpen yang dipuji oleh Pak Ismail karena menyediakan banyak kejutan.

Pelan-pelan saya juga tampil sebagai pembicara skala kampus. Makalah-makalah lahir, sebagian besar tentang gerakan mahasiswa. Dari sana juga saya menulis skripsi dengan tema “Koreksi Demi Koreksi: Aktivitas Pergerakan Mahasiswa Pasca Malari sampai Penolakan NKK-BKK (1974-1980)”. Pengalaman saya sebagai aktivis membawa saya kepada pergaulan di luar UI. Paling tidak, selain Fadli Zon, saya paling banyak mewakili mahasiswa UI kala itu, baik untuk tingkat jurusan, fakultas atau universitas. Samarinda, Surabaya, Pekanbaru, Yogyakarta, Malang, Bandung, dan kota-kota lainnya mulai saya singgahi.

Karena jauh dari kampung, saya juga sering menulis surat. Ayah saya adalah seorang penulis yang baik, dengan tulisan tangan yang indah, turunan dari ayahnya (kakek saya) yang pernah jadi juru tulis pada masa Belanda. Banyak hal yang saya perdebatkan dengan ayah saya waktu itu. Selain itu, saya juga menulis surat kepada pacar saya di kampung, Bengkulu dan Lampung. Saya juga berkomunikasi lewat surat dengan teman-teman aktivis di sejumlah kota, termasuk juga dengan seorang mahasiswi Jepang di Jepang dalam bahasa Inggris yang minim. (Keberadaan sms dan internet sekarang saya kira menjadi unsur degradasi kemampuan penulisan para mahasiswa dan anak-anak sekolah).

Saya mulai merambah koran dan tabloid umum ketika ditawarin menulis di Tabloid Swadesi yang dikelola oleh teman saya yang jadi reporter di sana, Bayu. Boleh dikatakan dari sanalah saya menjadi penulis umum, terutama tentang gerakan mahasiswa. Tabloid itu pada akhirnya bubar akibat perpecahan dalam tubuh PDI, karena memang afiliasinya dengan PDI. Honor menulis disana Rp. 35.000-Rp. 45.000. Tulisan saya juga nongol di Harian Merdeka dan Tabloid Mutiara milik Suara Pembaruan. Saya masih ingat mendatangi kantor Suara Pembaruan untuk mengambil honor sebesar Rp. 66.000, lalu Rp. 6.000,-nya dipotong pajak.

Saya juga tetap menulis puisi. Puisi bagi saya adalah kolom tersingkat yang bisa ditulis. Dalam banyak hal yang tidak bisa dicerna secara singkat, puisi mewakilinya. Puisi juga bisa “menyimpan” ingatan secara tidak terduga, karena bahasanya yang tidak tersurat. Dalam sejumlah kesempatan demonstrasi dan aksi mahasiswa, puisi-puisi saya bawakan. Bahkan, ketika maju sebagai calon Ketua Senat Mahasiswa UI, saya lebih banyak membaca puisi ketimbang berorasi menarik mahasiswa untuk memilih saya.

Usai kuliah, tahun 1997, krisis multidimensional menimpa Indonesia. Saya adalah generasi terakhir para sarjana Orde Baru yang langsung kehilangan harapan. Banyak lowongan kerja yang membatalkan penambahan karyawan, terutama di dunia pers dan penerbitan. Cita-cita saya menjadi wartawan tidak kesampaian. Beban sosial juga melekat, yakni bagaimana mempertahankan hidup setelah kuliah yang menghabiskan umur dan dana. Apalagi saya banyak dibantu oleh kakak-kakak dan adik-adik saya ketika kuliah, selain mendapatkan beasiswa mahasiswa berprestasi dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebesar Rp. 50.000 per bulan.

Semula, saya bekerja di Surat Kabar Kampus Warta UI, lantai 7 Rektorat UI. Bersama Pak Rahmat, saya menerbitkan edisi-edisi khusus berdasarkan kebutuhan fakultas. Uang yang saya dapatkan tidak menentu, karena memang tidak ada gaji tetap. Rata-rata penghasilannya Rp. 150.000 sampai Rp. 300.000,- per bulan. Tetapi pekerjaan itupun tidak bertahan lama, karena ada kebijakan untuk tidak lagi menerbitkan SKK Warta UI. Nasib membawa saya ke jalanan, yakni bergabung dengan PT Deka Megahrani Citra, sebagai interviewer produk-produk konsumsi, seperti makanan dan minuman. Penghasilan didapat berdasarkan berapa banyak responden yang kita dapat. Jumlahnya dikumpulkan per bulan, kadang kurang dari Rp. 100.000,- per bulan, kadang lebih.

Dalam era reformasi yang bergejolak itu, saya dan teman-teman UI yang membantu Keluarga Besar UI menerbitkan juga tabloid dan jurnal, bersama teman saya Rahmat Yananda (sekarang jadi konsultan bisnis), Andi Rahman (sekarang dosen sosiologi FISIP UI), Dandi Ramdani (sekarang sedang menempuh pendidikan S-3 di Belanda), Padang Wicaksono (sekarang sedang menyelesaikan studi S-3 di Jepang), Tirta Adhitama (sekarang sedang menyelesaikan studi S-3 di Jepang) dan Muhammad Fahri (sekarang jadi pebisnis). Arus reformasi yang bergulir itu menyediakan waktu bagi kami untuk mengeluarkan apapun guna mengkritisi rezim yang mulai keropos. Sikut-menyikut antar kelompok begitu kentara, kadangkala disertai ketakutan akan dikeroyok atau diculik.

Saya terlibat dalam aksi-aksi itu sebagai alumni, termasuk berada di Gedung DPR MPR ketika diduduki oleh mahasiswa tanggal 20 Mei 1998. Buku harian saya dipenuhi berlembar-lembar cerita, termasuk ketika pecah kerusuhan tanggal 12-13 Mei 1998. Saat kerusuhan meledak, saya berada di Universitas Trisakti untuk memberikan penghormatan kepada para mahasiswa yang ditembak sehari sebelumnya. Dari sana saya saksikan betapa kelompok yang paling berani menghadapi polisi dan tentara ternyata bukan mahasiswa, melainkan para pelajar. Sebelum siang, kerusuhan tidak terlalu parah. Tetapi setelah para pelajar pulang sekolah, mereka berada di barisan depan tanpa rasa takut berhadapan dengan polisi dan tentara. Kami yang berlindung di dalam kampus hanya bisa mengusap air mata terkena gas air mata.

Saya kembali mendapatkan kesempatan menulis ketika bekerja di lingkungan STIE Pramita, Tangerang. Kebetulan majalah kampus itu membutuhkan tenaga kerja. Bersama dua sahabat saya, Sugeng P Syahrie dan Luthfi Ihsana Nur, saya mengelola majalah kampus itu. Lama kelamaan, karena perubahan politik, Pak Hadi Soebadio yang menjadi pimpinan kampus itu terpilih menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah Partai Amanat Nasional Kabupaten Tangerang. Dari sanalah saya terjun ke politik, yakni dengan menerbitkan tabloid Mentari. Lagi-lagi menulis menjadi pekerjaan utama.

Lalu saya berkenalan dengan Faisal H Basri, Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional. Sejak mahasiswa saya sudah mengaguminya. Dalam waktu cepat, sayapun bergabung dengan kelompok Faisal H Basri. Sayapun pindah dari Tangerang, lantas tinggal di Apartemen Rasuna, Kuningan, sebagai markas kelompok Faisal H Basri. Di apartemen itulah saya belajar politik dalam artian paling riil, karena berdiskusi dengan genk Faisal yang lain, seperti Bara Hasibuan, Arif Arryman, Nawir Messy, Sjahrial Djalil, Rizal Sukma, Rahmat Yananda, Santoso, Rachman Sjarief, Aan Effendi, Tristanti Mitayani, Abdillah Thoha, Sandra Hamid, Miranti Abidin, dan lain-lainnya. Mereka rata-rata berpendidikan master dan doktoral, serta berasal dari sejumlah lembaga think tank berpengaruh seperti CSIS, Econit, dan INDEF. Tugas saya adalah membikin minum, menyapu lantai, membelikan makanan, dan mencatat hasil rapat, lalu mendistribusikannya kepada peserta rapat.

Dunia internetpun saya kenali di apartemen Rasuna ini. Saya memasuki berbagai mailing list, lantas menggunakan nick name, juga berdebat dengan banyak kalangan. Informasi terbanyak memang akhirnya saya dapatkan lewat dunia maya ini. Boleh dibilang saya selalu tidur terlambat, karena menggunakan internet sampai dini hari. Koran-koran sudah saya baca dini hari itu di internet, sehingga informasi terbaru selalu saya ikuti.

Karena memang hidup di lingkungan politikus dan intelektual, sayapun memberanikan menulis. Tulisan pertama dan kedua saya kirimkan ke Kompas. Tulisan ketiga diterima. Semangat barupun muncul, karena Kompas adalah koran terbesar dan berpengaruh di Indonesia. Tulisan-tulisan lainpun juga masuk ke Kompas, dan media lainnya. Jadilah saya dikenal sebagai penulis Kompas, sesuatu yang menjadi magnet bagi siapapun untuk menyampaikan pikiran mereka kepada saya. Selain menulis, saya juga menjadi semacam asisten politik Faisal H Basri. Kesibukannya yang luar biasa membutuhkan manajemen. Saya ditugaskan untuk membantunya, sekalipun untuk mengatur jadwal Faisal sangatlah rumit.

Kolom Demi KolomAkhirnya, saya menjadi penulis. Produktifitas saya begitu meluap. Saya juga menjadi generasi pertama penulis kolom di sejumlah website dengan honor lumayan. Booming internet waktu itu menyebabkan banyak permintaan atas kolom, terutama kolom-kolom politik. Detik.com, Berpolitik.com, Lippostar.com, Satunet.com, Indonesiamu.com, dan lain-lainnya menjadi tempat saya menyalurkan bakat dan kemampuan penulisan saya. Namun saya juga tetap terus mengirimkan tulisan demi tulisan ke koran dan majalah.

Karena memang “kontrak” saya dengan kelompok Faisal mau habis, saya akhirnya melamar pekerjaan ke dua institusi, yakni CSIS dan radio 68h. Kebetulan Rizal Sukma yang menjadi kelompok Faisal di PAN adalah Direktur Studi CSIS, begitu juga anggota gank Rasuna lainnya yakni Santoso yang menjadi Direktur Radio 68h. Ketika saya mulai kehilangan harapan, karena beban kebutuhan hidup yang mulai Senin-Kamis, nyatanya saya diterima di kedua tempat itu. Tetapi, atas saran Santoso dan teman-teman lain, termasuk dukungan dari Faisal, Arryman, dan Bara, saya akhirnya memutuskan untuk bekerja di CSIS. Saya mulai masuk tanggal 1 Desember 2000.

Dengan status baru sebagai peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, kesempatan buat saya makin terbuka lebar. Apalagi kelompok Faisal makin patah arang dengan PAN. Tanggal 21 Januari 2001, sebanyak 16 orang fungsionaris dan pendiri PAN mengundurkan diri, termasuk saya yang sebetulnya baru bergabung resmi dalam Departemen Seni dan Budaya DPP PAN pascakongres PAN di Yogyakarta tahun 2000. Sebagai orang dekat Faisal, saya punya banyak kesempatan mengikutinya, termasuk dalam rapat-rapat dan pertemuan-pertemuan penting di luar jabatan saya di Departemen Seni dan Budaya. Saya juga mulai mengambil tempat sebagai salah satu orang yang diberi kesempatan mengambil sikap atau keputusan atas apa yang akan dilakukan oleh kelompok.

Setelah mundur dari dunia politik, sekalipun tetap dikenal sebagai orang PAN, saya mempunyai ketertarikan mendalam kepada kelompok-kelompok masyarakat sipil. Karena kelompok Faisal sudah jarang bertemu, saya akhirnya bergabung dengan sejumlah kelompok masyarakat sipil, antara lain Forum Indonesia Damai. Ketika banjir melanda Jakarta, saya bergabung dengan kelompok Satu Merah Panggung Ratna Sarumpaet. Dalam kapasitas sebagai anggota DPP PAN, saya juga pernah menjadi tim perumus dan penulis akhir buku Skenario Masyarakat Sipil Indonesia tahun 2010, dimana saya berkenalan dengan banyak aktifis muda kala itu, seperti Munarman YLBHI. Saya juga menjadi salah satu deklarator Perhimpunan Rakyat Jakarta untuk Pemberantasan Korupsi (berantaS). Sebetulnya, simbol “S” dengan huruf besar dalam KontraS dan BerantaS itu bukan timbul tanpa sengaja, melainkan diidentikkan dengan Soeharto, sesuatu yang jarang diketahui oleh kalangan luar.

Dan sayapun menikahi kekasih yang mendampingi saya selama 6 (enam) tahun sejak di bangku kuliah: Faridah Thulhotimah, anak jurusan Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI. Ia menjadi sumber inspirasi saya, sekaligus kekuatan saya ketika berhadapan dengan begitu banyak persoalan hidup. Pernikahan saya dihadiri oleh sejumlah aktifis, peneliti, politikus, dan teman dekat. Mustafa Kamal membacakan doa, sementara Erry Riyana Hardjapamengkas bertindak sebagai tuan rumah alias bapak angkat saya. Faisal H Basri menjadi saksi. Biaya pernikahan saya datang dari kantong-kantong pribadi orang-orang baik itu.

Sebagai aktivis dan peneliti, saya juga menjadi penyiar radio, yakni di Radio Delta FM dan Jakarta News FM. Karena bergabung dengan Koalisi untuk Konstitusi Baru yang dikomandani oleh Todung Mulya Lubis dan Bambang Widjajanto, saya akhirnya berkenalan dengan banyak ahli hukum dan politik dari berbagai kampus. Saya juga pernah menjadi host acara di Trijaya FM. Undangan sebagai pembicarapun berdatangan, termasuk di luar daerah. Inilah dunia yang “menenggelamkan” saya ke dalam pergaulan kalangan civil society di Indonesia. Sejumlah nama yang hadir di media massa-pun akhirnya saya kenali satu demi satu. Sayapun juga mengenali Teten Masduki, justru setelah saya aktif di BerantaS yang merupakan “pecahan” dari Indonesia Coruption Watch. Dari FID saya kenal Erry Riyana Hardjapamengkas.

Sayapun terus menjadi kolomnis. Sepanjang tahun 2001 saya menulis 67 artikel atau kolom; tahun 2002 sebanyak 68; tahun 2003 sebanyak 60, dan tahun 2004 naik lagi menjadi 65. Itu yang berhasil saya dokumentasikan, karena memang ada sejumlah yang lain yang kurang terlacak. Saya juga menulis dalam jurnal ilmiah, menyumbang tulisan untuk sejumlah buku, dan menulis makalah untuk seminar dan diskusi. Boleh dibilang kegiatan menulis adalah kegiatan utama saya. Saya ingat ucapan dosen saya, pak Ismail Marahimin: “Kalau anda lulus dan mendapatkan nilai A, itulah modal hidup anda.”

Ide TulisanLalu darimana ide-ide tulisan saya. Pertama, tentunya berangkat dari kegelisahan pribadi. Saya merupakan pribadi yang gelisah. Kalau saya merasakan sesuatu, biasanya saya mengambil buku kecil mencatat ide-ide saya. Atau langsung menulisnya saat itu juga. Karena dilahirkan dari keluarga miskin dan hidup dalam penderitaan di Jakarta, selalu saja saya curiga kepada penguasa dan kekuasaan. Boleh dikatakan saya mempunyai banyak musuh: tentara, laskar, partai politik (terutama Partai Golkar), dan lain-lainnya. Hal inilah yang membuat saya terus memproduksi tulisan-tulisan kritis dan emosional, terutama kalau arogansi kekuasaan muncul. Ide-ide itu juga lahir dari semangat penolakan kepada argumen-argumen orang lain. Selama tinggal di Tangerang, saya terbiasa mengkliping artikel-artikel koran dari penulis ternama, lantas mencorat-coret pikiran-pikiran mereka.

Kedua, ide tulisan yang bersifat perubahan dan pembaharuan muncul dari keterlibatan saya di banyak organisasi masyarakat sipil, misalnya: Forum Indonesia Damai, Koalisi untuk Konstitusi Baru, Gerakan Tidak Pilih Politisi Busuk, Perhimpunan Rakyat Jakarta untuk Pemberantasan Korupsi, Perkumpulan Masyarakat Jakarta Peduli Papua, Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil, Komisi Darurat Kemanusiaan, Kelas Indonesia Alternatif dan lain-lain. Berbagai pemikiran yang berkembang dalam forum-forum itu saya teruskan ke media. Apalagi, sebagai orang yang mulai dikenal sebagai pengamat politik, saya terkadang merasa jengah dengan apa yang dikutip dari wawancara dengan saya. Biasanya, dari sejumlah wawancara panjang, tampilan di media tidaklah utuh. Makanya, untuk “meluruskan”-nya dan menampilkannya secara utuh, saya memutuskan menulis tema dari wawancara yang berangkat dari peristiwa politik itu.

Ketiga: berasal dari fokus penelitian saya selama di CSIS, yakni menyangkut otonomi daerah, partai politik, demokrasi dan konflik. Lingkungan pergaulan di CSIS begitu menyenangkan, karena terdapat banyak nama yang dikenal oleh publik luas, seperti J Kristiadi, Kusnanto Anggoro, Rizal Sukma, Tommy Legowo, dan lain-lainnya. Beberapa tugas kantor akhirnya saya rasakan bisa disampaikan kepada publik. Dari sinilah muncul tulisan-tulisan yang tidak berdasarkan peristiwa politik, melainkan lebih kepada pengembangan konseptual atau bahkan hanya sekadar pelipur lara. Tulisan-tulisan ini lebih reflektif, karena mencoba melihat sesuatu dari luar praktek politik keseharian.

Keempat, berasal dari fokus pribadi saya, yakni menyangkut tema masyarakat sipil, Papua dan Aceh. Perjalanan saya ke daerah juga menjadi inspirator, makanya muncul tulisan soal Samarinda, Pekanbaru, Maluku, Aceh, Papua, dan lain-lain. Saya selalu ingin mencari tahu ada apa dibalik perlawanan atas Jakarta. Sesuatu yang saya cita-citakan sejak dulu, yakni bertualang ke banyak negeri, akhirnya tercapai. Tidak terasa, saya menjelajahi sebagian besar ibukota provinsi di Indonesia. Hanya Gorontalo, Kendari (Sulawesi Tenggara), Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), Mamuju (Sulawesi Barat) dan Monokwari (Irian Jaya Barat) yang belum saya kunjungi. Indonesia nyatanya tidak seperti yang kita baca lewat informasi buku dan media.

Saya juga mendapatkan ide tulisan dari apa yang saya baca. Kadang-kadang sepotong berita dan kalimat di sesobek koran. Biasanya, kalau saya ingin menulisnya, tema atau ide itu terus-menerus mendesak saya untuk segera dituliskan. Kalau saya sudah mulai menulis, biasanya saya melupakan yang lain. Tetapi saya juga bisa menulis di tengah kebisingan atau pembicaraan. Kadang, dalam seminar, ketika menjadi pembicara, atau ketika berbicara dengan orang lain, saya tiba-tiba berhenti dan menuliskan sesuatu di catatan atau handphone atau XDA saya. Saya takut kalau ide atau potongan kalimat itu tiba-tiba hilang, karena saya pasti menyesalinya.

Anehnya, kalau saya membaca buku serius atau teoritis, saya justru tidak akan bisa menulis beberapa hari. Saya akan tenggelam dalam buku itu. Biasanya kalau ada sesuatu yang terbersit, saya menulis di pinggiran buku itu, misalnya bagian yang hendak saya kutip untuk makalah atau ide yang hendak saya pertentangkan dengan apa yang tertulis di buku itu. Makanya, saya kadang-kadang agak kesulitan untuk “larut” dalam keadaan, karena itu bisa mematikan saya.

Ide juga bisa muncul dari orang lain, dan ini yang dikritik oleh teman saya sebagai tidak genuine. Misalnya, beberapa redaktur opini meminta saya menulis tema tertentu dengan waktu tertentu. Biasanya saya cepat menuliskannya, karena mengejar deadline. Kenapa bisa cepat? Karena saya mengikuti perkembangan berita dengan rutin, lalu membangun opini tersendiri atas berita atau peristiwa itu. Hanya, saya merasa menulisnya tidaklah penting atau tidak punya waktu. Baru ketika diminta oleh redaktur opini media massa itu saya merasa, “O, menulis soal ini penting, toh?” Kadang, karena merasa bosan atau tulisan yang saya kirim lama dimuat atau tidak dimuat sama sekali, saya berhenti menulis dan menganggap semua hal tidak penting, kecuali tulisan saya yang lama baru dimuat itu atau yang tidak dimuat itu.

Struktur PenulisanLalu bagaimana saya menuliskan sesuatu yang “penting” atau “tidak penting” itu sehingga tersaji di depan publik dalam lembaran-lembaran koran? Bagaimana struktur penulisan yang baik? Berdasarkan pengalaman, menurut saya, tulisan yang baik itu harus memuat unsur-unsur berikut. Pertama, kuat dalam data. Kadangkala saya juga ceroboh dalam hal ini, terutama menyangkut nama, peristiwa, singkatan, atau bahkan tanggal. Tetapi, karena peristiwa politik berlangsung cepat, soal data itu juga tidak selalu akurat ditulis oleh media, karena informasi pagi hari bisa berubah sore dan malam hari. Tetapi, apapun itu, penulis yang baik hendaknya jangan sekali-kali memanipulasi data.

Kedua, sedikit teori. Dulu saya sempat menulis dengan cara mengutip buku, bahkan juga sekarang. Ada kelompok pembaca yang menyenangi jenis ini, terutama kalau kita mengutip buku atau artikel terbaru berbahasa Inggris, seperti yang banyak dijumpai di perpustakaan CSIS. Tetapi, lama kelamaan, saya merasa cara seperti ini tidaklah menarik. Alasannya antara lain, analisa atau teori dalam buku itu mencakup spektrum atau konteks tertentu. Teori transisi atau konsolidasi demokrasi, misalnya, tidak sama antara Philipina, Brazil, Thailand atau Malaysia. Kalau hanya mengambil kesimpulan akhir dari sebuah buku atau artikel, berdasarkan uraian panjang lebar atas persoalan tertentu, berarti yang terjadi adalah inplantasi atau pencangkokan. Dalam soal artikel koran, saya sependapat dengan Bara Hasibuan betapa rata-rata kolom di Indonesia terlalu berat, reflektif dan teoritis. Referensi Bara tentunya International Herald Tribune dan koran-koran luar negeri lainnya.

Ketiga, tidak mendalam, tetapi juga tidak dangkal. Kalau ingin menulis mendalam, pakai kerangka teori, sebaiknya tulisan itu dikirimkan ke jurnal atau lebih baik lagi yang ditulis adalah buku, bukan artikel atau kolom. Yang diperlukan adalah bingkai dari keseluruhan tulisan dan bagaimana bingkai itu diberi daging opini dan bahkan selimut pendapat. Kalau terlalu dalam, bisa-bisa tulisan itu malah menyesatkan atau liar kemana-mana. Makanya, bagi sejumlah kawan penulis opini media, biasanya yang dicari adalah judul tulisan terlebih dahulu, ketimbang isinya. Tetapi ada juga yang menjadikan pemberian judul setelah tulisan selesai. Saya menggunakan keduanya, sekalipun saya lebih senang dan cepat menulis kalau sudah menemukan judul yang cocok.

Keempat, ringkas. Ringkas bukan berarti padat atau ringkasan. Saya biasanya kebingungan kalau membaca kolom atau artikel ekonomi yang dipenuhi dengan angka dan prosentase serta istilah-istilah teknis lainnya. Pembaca koran yang baik mungkin memerlukan kamus khusus untuk bisa memahami artikel itu. Tetapi bagaimana bisa anda menyiapkan kamus di terminal bus atau di kursi pesawat yang terbang jauh di atas langit? Tulisan ringkat bisa memuat unsur 5W-1H, tetapi sekaligus juga mengandung tiga hal: pembuka (angle), isi dan penutup (refleksi). Tulisan ringkas juga sedapat mungkin menggunakan pilihan kata populer/sederhana, ketimbang teknis ilmiah.

Kelima, tepat sasaran. Anda ingin menujukan tulisan buat siapa? Kalau saya menulis agak panjang (1200 karakter, misalnya), biasanya saya tujukan tulisan itu ke kalangan mahasiswa atau pembaca yang biasa mengkliping artikel. Tetapi kalau tulisan pendek, dalam pikiran saya langsung tergambar siapa saja orang yang saya “tembak” dengan tulisan itu. Tentu berlainan antara tulisan yang ingin ditujukan ke kalangan pengambil keputusan dengan tulisan kepada khalayak ramai yang ingin “memahami” sebuah peristiwa. Sebagaimana media mencari pangsa pasar, maka dalam diri penulis mestinya juga sudah tersedia sejumlah pangsa pasar bagi pembaca tulisan-tulisannya.

Keenam, karakter media. Media tentu juga memiliki visi dan misi. Karakter masing-masing media berlainan. Saya punya catatan khusus tentang media-media tempat saya mengirimkan tulisan saya, serta saya gunakan untuk mengirimkan tulisan saya. Biasanya, saya tidak berpikir untuk menulis sebuah kolom atau artikel dengan cara sesudah selesai baru dipikirkan mau dikirim kemana. Ketika menulis, saya sudah tahu tulisan ini ditujukan ke media apa, lalu secara “otomatis” kalimat-kalimat yang saya bangun juga akan “sebangun” dengan media itu. Hal ini memang berat, karena karakter penulis bisa-bisa hilang. Tetapi saya selalu mempunyai sejumlah hal yang menurut saya “khas” saya, sehingga orang mengenali itu sebagai tulisan saya. Saya sebetulnya juga berharap bahwa tulisan-tulisan saya dibaca bukan karena saya penulisnya, tetapi karena ada cita-rasa tersendiri dari tulisan itu.

Ketujuh, sebetulnya boleh ada kutipan (awal, tengah atau akhir tulisan). Tetapi ini konsep yang sangat klasik. Terkadang saya tidak mengutip, tetapi memberikan cerita. Kutipan juga seringkali menjadi sempalan dari sebuah tulisan, karena kalau tidak tepat menempatkannya, bisa-bisa ia menjadi semacam benalu atau kangker. Kutipan yang baik adalah yang bisa menyatu dengan keseluruhan tulisan. Dulu saya mengutip lewat wawancara, sekarang yang makin sering adalah lewat sms. Saya pernah kaget ketika Revrisond Baswir menulis di Republika dengan diawali oleh sms dari saya. Saya juga pernah menulis di Koran Tempo dengan kutipan langsung sms dua orang menteri, tetapi saya tidak menyebutkan siapa menteri itu karena kurang etis.

Sebetulnya apa yang saya tuliskan ini sangat pribadi. Mungkin banyak yang tidak memahaminya, karena memang keluar dari kerangka umum. Sebelum menjadi penulis, bertahun-tahun saya membeli buku-buku tentang penulisan, baik ilmiah atau populer. Banyak teori penulisan yang muncul dalam buku-buku yang mudah didapatkan di loakan itu. Tetapi, ketika saya menulis, tentu buku-buku itu tidak ada lagi di meja saya. Sesekali saya memang perlu membacanya untuk sekadar mengambil jarak atas tulisan-tulisan saya sendiri.

Tips KhususBagi penulis baru atau lama, ada beberapa tips khusus yang saya rasa perlu, terutama untuk “menembus” media massa mapan. Anda bahkan bisa menjadi penulis produktif kalau mempraktekkannya. Ketika saya mempraktekkannya, dulu, saya pernah kaget ketika tanggal 9 bulan itu saya sudah menemukan 10 tulisan saya di media cetak. Artinya, tulisan saya itu lebih dari satu dalam sehari. “Kegilaan” itu tidak saya lanjutkan, karena ada banyak nasehat agar saya bisa menjaga jarak. Apalagi motif saya menulis kala itu salah satunya uang, karena dari menulis saja saya bisa mendapatkan Rp. 5 Juta per bulan.

Tips khusus itu adalah, pertama, perhatikan headline atau tajuk rencana harian/majalah yang bersangkutan. Dari headline dan tajuk rencana itu, kita bisa membaca kearah mana setting agenda dari media yang bersangkutan. Kalau anda temukan headline tertentu dan tajuk rencana tertentu ditulis berkali-kali, tetapi tidak ada juga opini yang ditulis pihak luar, maka kesempatan masuknya tulisan anda bisa 100%. Saya sering “tertawa” ketika menemukan kolom atau opini yang tidak terlalu bagus, tetapi tetap dimuat, karena memang sangat sesuai dengan concern media itu dalam tajuk rencana dan headlinenya. Kalau perlu, anda kutip tajuk rencana media tersebut, lalu mengupas dan mengkritiknya.

Kedua, temukan judul yang pas dan ringkas terlebih dahulu. Judul adalah otak dan otot bagi sebuah tulisan pendek. Sering malah sebuah tulisan dimuat karena judulnya, sekalipun isinya biasa-biasa saja. Karena memang ditujukan kepada orang yang mungkin sedang minum kopi atau istirahat, sebuah artikel pendek akan langsung dibaca ketika judulnya menarik. Isinya bisa apa saja, tetapi judul sudah menjadi iklan yang luar biasa. Saya sering mendapatkan komentar atas tulisan, hanya karena judulnya. “Kursi RI 1 untuk Apa, Jenderal” (Kompas, 29 April 2004) termasuk yang mendapatkan banyak reaksi positif. Padahal, tulisan itu sempat dirombak dan diganti judul, sekalipun isinya tidak banyak berubah.

Ketiga, kalau ingin menjadi penulis terkenal, sebaiknya kejar media “besar” terlebih dahulu, namun jangan berlebihan. Saya kira “teori” kirim 100 artikel sekalipun ditolak gugurkan saja. Untuk apa anda mengirim 100 artikel kalau semuanya tidak dimuat? Kalau anda betul-betul bertahan dalam susah, lalu memperbaiki tulisan anda, lantas sekali sebulan mengirim ke media besar yang sama, saya kira anda akan mendapat tempat. Tetapi jangan lupa, bahwa dengan cara seperti itu anda sebetulnya harus bersiap-siap untuk mendiskusikan tulisan anda jauh lebih dalam dari apa yang anda tulis.

Keempat, usahakan menjadi spesialis. Banyak yang menyebut saya bukan spesialis ilmu tertentu, karena tema yang saya tulis terlalu banyak. Spesialisasi saya, ya, sebagai penulis saja. Akan lain misalnya seorang penulis mempunyai spesialisasi ilmu pengetahuan tertentu, karena dia akan dicari pascatulisan itu terbit. Saya akui, dulu saya menulis banyak hal, sekalipun pelan-pelan ingin saya arahkan ke satu-dua tema saja. Tetapi kesulitan menjadi spesialis juga ada, yakni anda akan sangat tergantung kepada momentum. Penulis yang baik harus bisa menyiasati momentum, sekalipun punya spesialisasi, yakni dengan menjadikan peristiwa apapun sebagai jalan pembuka. Ahli-ahli pemilu, misalnya, akan sulit menulis ketika musim pemilu sudah lewat. Kalau ia kreatif, setiap bulan bisa saja menulis segala sesuatu lalu mengaitkannya dengan pemilu.

Kelima, jangan lupa membikin tabungan naskah. Anda pasti akan membutuhkannya, terutama kalau anda betul-betul menjadi penulis besar. Ketika produktifitas tulisan saya begitu tinggi, sebagian saya ambil dari tulisan ketika mahasiswa. Untunglah saya memasukkan beberapa ke dalam komputer, sehingga tinggal mengolahnya lagi sesuai dengan kebutuhan sekarang. Akan tetapi, model dan karakter tulisan mahasiswa itu tentulah berlainan dengan sekarang. Tetapi ada keinginan tersendiri betapa apa yang pernah saya tulis itu harus sampai kepada publik, kalau memang saya menganggap tulisan itu bisa memberikan perspektif.

PenutupApa yang saya tuliskan ini tentulah belumlah semuanya. Apalagi di tengah kesibukan sekarang, tentu semakin sulit bagi saya meluangkan waktu untuk menulis. Harus ada banyak penyiasatan atas waktu. Dulu, apabila saya bosan atas sesuatu, biasanya saya pergi ke tiga tempat, yakni toko buku, pasar dan laut. Dengan mengunjungi toko buku, saya merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Kalau ke pasar dan menemukan kuli, ibu-ibu penjual sayur, atau bau busuk, saya merasa sebagai orang paling malas di dunia. Di pinggir pantai saya merasa menjadi orang paling kecil di tepian galaksi. Biasanya, saya kembali segar, lantas berusaha untuk tidak malas.

Dari menulis, saya mendapatkan banyak manfaat. Seringkali orang merasa saya orang pintar. Padahal, banyak orang yang lebih pintar dan cerdas yang saya temui dan kagumi. Saya justru merasa, kepintaran bukan ukuran untuk menjadi seorang penulis. Yang paling penting barangkali empati atau keinginan merasakan apa yang diderita atau dipikirkan atau dirasakan orang lain, seperti orang lain itu memikirkan atau merasakannya. Kalau sisi humanisme hilang dalam diri saya, barangkali saya tidaklah akan bisa menjadi seorang penulis.

Saya memang mendapatkan uang, “ketenaran” dan segala macam hal lainnya dengan menulis. Banyak yang tertipu dengan usia saya, pendidikan saya (saya baru menyelesaikan S-1 Jurusan Ilmu Sejarah UI), sosok saya (saya tidak pakai kacamata dan agak gaul, bukan ada di perpustakaan penuh debu), orangtua saya (saya bukan anak jenderal, pengusaha besar atau pejabat negara, karena ayah-ibu saya hanyalah petani dan pensiunan pegawai negeri sipil golongan rendah), atau kondisi keuangan saya (sekarang memang sudah lebih mapan, punya mobil, tiga kantor, tetapi saya tinggal di rumah mertua di lingkungan yang “buruk”: banyak preman, kyai, etnis, juga ada banyak penjual narkoba, pelacur, dll, di kawasan Jalan Krukut, Jakarta Kota), dan lain-lain.

Sebagai pemompa semangat, dengan menulis katakanlah 350 artikel saja selama 5 tahun ini, lalu rata-rata artikel itu dihargai Rp. 500.000,- (ada yang lebih ada yang kurang), berarti saya sudah mengumpulkan uang kira-kira sebesar Rp. 175.000.000,- atau Rp. 35.000.000,- setahun. Kalau ukurannya uang, sebetulnya menulis artikel hanyalah perantara kepada kegiatan lain, seperti seminar, pelatihan, dan lain-lainnya yang uangnya lebih besar, selain tentunya tawaran gaji yang lebih tinggi dari lembaga-lembaga yang menginginkan saya bekerja di sana. Silakan tebak, berapa saya punya penghasilan.

Menjadi penulis menurut saya bukan berarti harus menjadi miskin. Tetapi tetap saja menjadi sebuah kesalahan pikiran kalau tujuan menjadi penulis adalah mencari kekayaan atau ketenaran. Pengalaman menunjukkan, ketika saya ingin bersembunyi dan menyendiri, tiba-tiba ada saja yang kenal dan harus diajak bicara. Kehadiran televisi sebetulnya bisa menggerus kemampuan seorang penulis, kalau penulis itu yang seharusnya menulis, tetapi harus hadir di televisi menjadi seorang pembicara atau komentator.

Lebih dari segalanya, kebutuhan penulis di Indonesia masihlah besar. Selain itu, nasib penulis Indonesia juga kurang beruntung. Jangankan untuk mentraktir orang lain, bahkan untuk makan layak saja tidaklah cukup. Saya punya sejumlah teman yang duluan terkenal, tetapi hidupnya pas-pasan karena hanya mengandalkan tulisan. Karena media massa juga punya keterbatasan, misalnya paling tinggi memuat dua tulisan dari satu penulis dalam sebulan, kehidupan penulis bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Untuk makan saja tidak cukup, apalagi untuk membeli buku, bepergian, meneliti, atau ketemu dengan orang lain mendiskusikan sesuatu.

Bagi saya, nasib penulis haruslah diperbaiki. Sekarang saya mencoba membangun sebuah organisasi yang menaungi penulis, bersama Andrinof Chaniago, Jeffrie Geovanie, Saldi Isra, dan lain-lainnya. Mungkin namanya Indonesian Writer’s Institute (IWI). Gagasan ini sudah lama saya perjuangkan dan peminatnya tidak sedikit. Kehadiran organisasi ini tinggal menunggu waktu, paling lama tahun depan. Dengan cara itu, mudah-mudahan ada banyak jalan untuk menghasilkan para penulis, juga memperbaiki kehidupan (ekonomi) para penulis, tanpa mereka harus kehilangan jati diri, cita-cita, dan idealismenya.

Perjuangan Menjadi Penulis - M. Shodiq Mustika

Perjuangan Menjadi Penulis - M. Shodiq Mustika

Berikut ini kisah yang diambil dari perjuangan dua orang penulis yang telah berhasil. Satu penulis tentang kisah-kisah yang berlandaskan agama dan satunya adalah penulis politik. Menarik membaca perjuangan M. Shodiq Mustika dan Indra Piliang

M. Shodiq Mustika

Prolog

“Aku akan mengisahkannya dengan menahan napas. … Ada jalan setapak yang bercabang di hutan rimba. Aku mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Ternyata jalan itu menghasilkan perbedaan yang amat besar,” ujar Robert Frost dalam “The Road Not Taken”.

Seperti Robert Frost, aku juga mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Ketika ribuan orang mendambakan profesi mapan selaku dosen-tetap universitas kenamaan, aku justru melepaskannya “hanya” untuk merintis karir menjadi penulis buku. Ketika milyaran orang berdesak-desakan di jalan tahta dan/atau jalan harta, aku malah meluncurkan diri di jalan ilmu nan sepi. (Untuk penjelasan mengenai mengapa kupilih jalan yang sunyi ini, lihat Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan.)

Lantas, apakah jalan ilmu yang kupilih ini berdampak besar pula bagi kehidupanku?

Ya! Dampaknya kurasa sangat besar. Aku akan mengisahkannya dengan menahan napas.

Merintis Karir Bermodal Dengkul

Seorang pembaca Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan yang rupanya pernah membaca beberapa buku terbaruku membesarkan hatiku. Katanya, “Buku-buku Anda tampak cerdas dan komunikatif. Ini mencerminkan bahwa Anda seorang penulis yang profesional. Saya yakin, jalan ilmu ini adalah pilihan yang sangat tepat bagi Anda.”

Alhamdulillaah. (Aku menahan napas.) Syukurlah dia berkomentar pada tahun 2007 ini. Andai pada delapan tahun yang lalu, saat kuputuskan merintis karir menjadi penulis buku, komentarnya mungkin jauh berbeda dan akan mengecilkan hatiku.

Delapan tahun yang lalu, aku belum menjadi penulis buku. Aku baru merintisnya dengan menjadi penerjemah buku. Meskipun telah menjadi dosen, belum dapat aku menyusun naskah buku sendiri. Jangankan naskah buku, naskah artikel (yang layak terbit) pun aku belum mampu menyusunnya.

Pada tahun 1999 itu, kemampuan tulisku (yang menghasilkan uang) hanyalah menerjemahkan teks Inggris ke Indonesia. Itu pun belum pantas disebut profesional. Sebabnya, kerjaku lambat. Penerjemahan satu buku saja (rata-rata setebal 250-an halaman) memakan waktu empat bulan atau lebih. Padahal, kerjaku full-time. Sekitar 10-14 jam per hari dan nyaris tanpa hari libur. Lambat, ‘kan?

Kerjaku yang lambat itu sebetulnya sudah lumayan bila dibandingkan dengan empat atau lima tahun sebelumnya. Ketika itu, aku mulai menjadi penerjemah “kaki lima” yang menerima order dari kios kecil di pinggir jalan. Saat pertama kalinya menerjemahkan teks orderan, sepanjang dua halaman, seberapa lambat proses penerjemahanku? Bayangkan! Aku menghabiskan waktu sampai lebih dari 12 jam hanya untuk mengerjakan satu paragraf atau sepertiga halaman. (Seandainya aku menerjemahkan buku dengan kecepatan ini, perlu waktu dua tahun atau lebih untuk menyelesaikannya.) Sangat lambat, ‘kan?

Kerjaku yang sangat lambat dalam menerjemahkan teks Inggris itu pun sebenarnya sudah lumayan pula jika dibandingkan dengan tahun 1986. Pada tahun itu, aku lulus dari SMA Negeri 4 Surakarta, jurusan IPA. Di antara guru-guruku atau pun teman-temanku, mungkin tidak ada yang bermimpi bahwa aku akhirnya bisa mendapat uang dari menerjemahkan teks Inggris. Pasalnya, nilaiku yang paling rendah di SMA adalah pada pelajaran bahasa Inggris. (Pada mid-semester 5, aku mendapat nilai 5 yang ditulis dengan tinta merah.) Kalau pun mampu menerjemahkan teks Inggris, paling-paling hanya satu kalimat: I love you.

Maklum, hasil psikotest saat SMA itu menunjukkan, aku akan “lebih sukses” bila melanjutkan studi di bidang eksakta daripada bidang bahasa. Angka IQ-ku di bidang eksakta sekitar 130 (di atas rata-rata). Berapa angka IQ-ku di bidang bahasa? Hanya sekitar 100 (rata-rata). Dengan kata lain, hasil tes tersebut memperlihatkan, aku tidak berbakat untuk menjadi penulis atau pun penerjemah.

Merambah Semak Berduri

Setelah “naik pangkat” dari “penerjemah kaki-lima” menjadi “penerjemah buku”, keadaan perekonomianku belum membaik. Pembayaran honor terjemahan buku seringkali tidak lancar. Ada yang pembayarannya tidak penuh; itu pun setelah kutagih berulang-kali.

Begitulah risiko berurusan dengan penerbit-penerbit yang kurang profesional. Malah, terjemahanku terhadap tiga buku Harun Yahya dibajak oleh orang-orang yang katanya saudaraku seiman. Sepeser pun mereka tidak membayarku. Jangankan membayar, memberitahu saja tidak!

Akibatnya, setelah semua barang yang laku dijual terjual, aku dan istriku mesti sering cari utang sana-sini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kian lama, utang kami pun kian menumpuk.

Ketika mulai “naik status” dari “penerjemah buku” menjadi “penulis buku”, keadaan perekonomianku malah semakin memburuk. Bagaimana tidak? Penulisan buku lebih menyita waktu dan memakan biaya. Padahal, royaltinya baru dibayarkan beberapa bulan setelah buku terjual atau sekitar satu tahun setelah naskah kuserahkan ke penerbit.

Dalam waktu sekitar satu setengah tahun, nyaris tidak ada pemasukan sama sekali. Hingga beberapa tahun berikutnya, aku bagai merambah semak-belukar yang penuh dengan kerikil tajam dan tanaman berduri. Di jalan begini, ayun langkahku teramat pelan. Produktivitasku dalam menulis buku rendah sekali. Kecepatannya belum mampu mengimbangi laju pengeluaran kami yang terus menanjak seiring dengan tumbuhnya anak-anak kami. Akibatnya, setelah beberapa puluh bulan berada tepat di garis kemiskinan, posisi kami melorot lagi sampai ke bawah garis kemiskinan.

Orkestra Sendu

“Ma, perutku keroncongan.”

“Pa, aku lapar.”

Demikian, orkestra sendu yang mengalun dari mulut mungil anak-anak kami yang menusuk-nusuk gendang telinga kami di setiap pagi, setiap siang, setiap sore, setiap malam, berbulan-bulan.

Tadinya, melalui berita di televisi dan suratkabar, kusangka peristiwa orang-orang kelaparan cuma terjadi jauh di sana. Di pedalaman Papua, Nusa Tenggara Timur, atau Afrika Tengah. Ternyata wabah kelaparan itu melanda kami pula. Padahal, kami bermukim di Solo alias Surakarta, sebuah kota besar di Jawa.

Solo adalah kota yang makmur, ‘kan? Lihat! Lapangan-lapangan telah disulap menjadi mal-mal dan pusat-pusat perbelanjaan. Mobil-mobil mengkilap berlalu-lalang di jalan-jalan raya. Restoran-restoran bertebaran di seluruh penjuru kota. Setiap Hari Raya Idul Adha, orang-orang kaya di kota ini mengirim ribuan kambing dan sapi korban ke luar kota. Untuk fakir-miskin yang membutuhkan kegembiraan, katanya.

Wow! Mereka dermawan, bukan? Eh, jangan-jangan, kedermawanan orang-orang kaya itu hanya berlangsung selama Hari Raya. Nyatanya, meminta bantuan sesuap nasi atau sebiji padi dari orang-orang yang berharta itu bagaikan mencari sebatang jarum dalam tumpukan jerami. Ataukah kami yang kurang gaul sehingga tidak mengenal banyak hartawan yang murah-hati?

Pernah, kami berkunjung ke rumah seorang saudara seiman yang tabungannya mencukupi untuk naik haji berkali-kali. Sebelumnya, kami dengar kabar bahwa ia telah mengetahui kesulitan kami. Kepada orang-orang ia mengumumkan: “Loh? Anak-anak Shodiq Mustika itu kan sudah kuanggap seperti cucu kandungku sendiri. Mengapa mereka tidak datang kepadaku? Kalau mereka datang kepadaku, dia dan istrinya takkan bingung cari utang.”

Ke rumahnya, aku dan anak-istriku berjalan kaki sejauh lima atau enam kilometer. Maklum, tidak ada sepeser pun uang pada kami untuk ongkos naik angkutan umum. Di rumah “saudara” kami itu, apa yang kami peroleh?

Begitu kami duduk di ruang tamu, si tuan rumah buru-buru memasukkan dua kaleng roti dari ruang tamu ke dalam kamar keluarga. Rupanya, kedua anak kami yang polos sedang menatap kaleng-kaleng itu dengan mulut menganga. Air liur mereka hampir menetes dari bibir.

Belum sempat kami utarakan maksud kedatangan kami, ia sudah menyampaikan informasi terkini. Intinya, “Krisis ekonomi yang melanda Indonesia ternyata berlarut-larut. Menambah saldo tabungan sulit sekali. Meskipun sudah membatasi pengeluaran, aku masih kekurangan uang. Tahu, ‘kan, berapa ONH (ongkos naik haji) sekarang? Belum lagi ongkos lain-lain. Padahal, targetku naik haji setiap tahun. Menemani anggota keluarga. Tahun lalu bersama anak sulung, tahun ini bersama anak kedua, tahun depan bersama anak ketiga. …”

Sementara itu, meskipun tubuh kami berkeringat sehabis berjalan kaki sejauh lima atau enam kilometer, tak segelas pun air yang disuguhkan. Apalagi makanan pengganjal perut yang keroncongan. Karena itu, kami pun tahu diri. Berpamitanlah kami tanpa sempat mengutarakan maksud kedatangan kami.

Akhirnya, kami pulang dengan tangan hampa. Di perjalanan pulang, seorang anak kami yang masih balita bertanya kepada mamanya dengan nada sendu: “Ma, apakah tidak ada orang kaya yang suka memberi?” (Aku menahan napas.)

Manfaatkan Kesempitan sebagai Kesempatan

Orkestra sendu itu mengalun “nyaring” dalam kesunyian, terutama sejak awal tahun 2005 hingga pertengahan 2006. Pada waktu itu, aku beserta anak-anak dan istriku terusir dari rumah (warisan ibuku). Saat pindah ke rumah peninggalan ayah mertuaku, keberadaan kami tidak diterima pula. Semuanya karena keluarga kami tidak mendukung jalan hidup yang kupilih, yakni menjadi penulis buku.

Jadilah kami “gelandangan”. Kami berpindah-pindah tempat tinggal sampai ada seorang pemilik kos yang bersedia menampung kami dengan pembayaran “sukarela”. (Sampai kini, kepadanya aku masih “berhutang” pembayaran kos.)

Dalam keadaan menjadi “gelandangan” begitu, aku masih bisa berbesar hati. Aku teringat, Buya Hamka menghasilkan karya terbesarnya (Tafsir Al-Azhar) ketika sedang berada dalam keadaan paling terpuruk, yakni di penjara. Begitu pula beberapa penulis terkenal lainnya. Siapa tahu, karya terbesarku mungkin justru lahir dari keadaanku yang paling terpuruk itu.

Menyusun buku dalam keadaan terpuruk ternyata tidak mudah. Untuk mengatasinya, strategiku adalah menjadikan bukuku sebagai media curhat. Aku tidak menganggapnya sebagai “tugas” yang lepas dari persoalan hidupku sehari-hari. Aku menjadikannya sebagai diary. Apa pun tema buku yang kutulis, aku selalu mengaitkannya dengan persoalan yang sedang kuhadapi.

Strategiku itu agaknya cukup efektif. Dengan strategi ini, aku lebih produktif menulis buku. (Buku Pelatihan Salat SMART, Bersalatlah, dan beberapa buku lain, aku susun ketika aku menjadi “gelandangan” itu.) Alhamdulillaaah.

Tercapaikah Kesuksesan?

Pada mulanya, aku hanya mampu menyusupi penerbit-penerbit kecil. Lambat laun, penerbit-penerbit yang agak besar pun menerima naskah-naskahku. Akhirnya, sewaktu berada di awal-awal “orkestra sendu” yang kuceritakan di atas, naskah-naskahku telah menembus penerbit besar. Dengan demikian, tercapailah targetku. (Target-awalku ketika dulu kuputuskan merintis karir menjadi penulis buku adalah menembus penerbit besar.)

Akan tetapi, yang tampak gamblang di mata keluargaku dan keluarga istriku adalah bahwa “pada kenyataannya”, keadaan perekonomian kami justru sedang menukik ke titik terendah. Mereka hanya menyaksikan bahwa seusai aku “banting stir” dari profesi dosen ke profesi penerjemah dan kemudian penulis buku, kami tidak kunjung bangkit dari garis kemiskinan. (Sudut pandang yang bertolak-belakang inilah yang agaknya menjadikan kami terusir dan terkucil dari keluarga, bahkan walau anak-anak telah mendendangkan “orkestra sendu”!)

Mereka tak mau tahu bahwa penerbit besar telah menerima naskah-naskahku. Mereka pun tak mau mengerti bahwa aku tak lagi bersusah-payah menawarkan naskah. Mereka tak peduli bahwa penerbit-penerbit itulah yang kini menyodorkan tema atau judul baru kepadaku untuk aku kembangkan menjadi naskah buku. (Mereka belum mengenal seluk-beluk dunia perbukuan. Di antara familiku dan famili istriku, memang baru aku seoranglah yang menjadi “kutu buku”.)

Epilog

Mungkin para pembaca yang menyimak kisah nyata ini berpikiran, “Wah, ternyata M. Shodiq Mustika ini orang yang sabar dan teguh. Sabar menghadapi badai kehidupan dan teguh dalam menempuh jalan hidup.” Begitukah kenyataannya?

Sebenarnya aku tidak begitu sabar. Sebetulnya aku tidak begitu teguh. Di tengah-tengah “orkestra sendu” dalam kesunyian, beberapa kali aku hendak menyerah. Hanya berkat keberadaan dua orang wanita di hatiku (istriku dan seorang putri Melayu), aku bertahan di jalan ilmu selaku penulis buku.
Cerita Anak

Cerita Anak

Lama berhenti menulis diary sejak menikah, medapatkan link bagus beberapa kisah bagaimana mencatatnya. Link ini bisa digunakan sebagai tempat belajar melatih menuliskan kisah-kisah keseharian. Memang tidak mudah untuk mengerjakan, tapi dengan memulai kita telah melangkah satu langkah menuju perjalanan.

Sebagai sarana, link-link untuk belajar menuliskan kisah bisa dilihat di bawah ini :
1. http://muhrizkyauliagobel.blogspot.com/
2. http://www.amriltgobel.net
3. http://onebizymama.com/
4. http://priandoyo.wordpress.com/
5. http://www.panyingkul.com/
6. http://kun.co.ro/2007/07/28/rak-buku/