Masih diberi Waktu


Tahun 2010 baru saja berlalu, baru saja kita memasuki tahun baru 2011. Ada sedikit waktu buat kita semua merenung dan membulatkan tekad, niat, menyongsong tahun baru. Sedikit merenung tahun baru, bermakna berkurangnya jatah umur yang diberikan oleh Allah buat kita. Sampai kapankah waktu yang tersisa buat kita, sampai kapankah kita masih diberi kesempatan untuk memanfaatkan anugerah kehidupan ini. Masih cukupkah waktu yang tersedia untuk memperbaiki kehidupan kita, menyongsong sebuah kepastian, kematian. Sesuatu yang seringkali kita abaikan, sesuatu yang jarang kita rencanakan, kita mau menjemput kematian dengan cara bagaimana, dan mengisi waktu menunggu kematian dengan melakukan apa. Kalau saja kelahiran manusia, masih ada program yang namanya keluarga berencana, apakah ada program kematian berencana.? Kematian berencana tidak ada, karena orang yang bunuh diri pun tidak yakin apakah cara yang dilakukan bisa menimbulkan kematian. Tak satupun makhluk diberi kuasa mengetahui tarikh tanggal kematian. Maka yang tersisa buat kita adalah merencanakan bagaimana mengisi masa penantian menunggu kematian dengan memperbaiki hidup, menghapus jejak-jejak dosa yang telah kita perbuat. Dengan cara apa, dengan cara membuat kenangan kehidupan kita, biarlah kenangan kebaikan yang senantiasa diingat oleh orang, bukannya keburukan yang telah kita lakukan. Siapakah kita, kita sebenarnya adalah identifikasi unik makhluk yang terlihat dan terkenang dari sikap, perilaku, tindak-tanduk, dan kebiasaan kita.
Masih teringat ketika kita menghantarkan kawan, saudara, atau sahabat ke kediaman terakhir. Terbayang perilaku kebaikan, ataukah kejahatan yang telah diperbuatnya, semua tercermin dari perilaku kehidupan yang telah diperankan selama menerima kehidupan di dunia. Apakah dikenali sebagai seorang peragu, yang senantiasa lama mengambil keputusan dan selalu bertumpu pada norma-norma absurd yang tidak bertumpu pada kebajikan, ataukah dikenali sebagai seorang tukang “gebuk” yang siap menggebuk siapa saja yang berbeda pendapat walau itu saudara sendiri saudara sebangsa, ataukah kita akan dikenal sebagai pengusaha Berjaya yang sukses yang dihormati di kalangan sendiri, namun kehadirannya tidak menimbulkan kemaslahatan, malah menimbulkan nestapa derita tiada tara dan dengan lihai bersembunyi dibalik kisah-kisah bencana alam. Amboi bencana alam pun bisa dimanipulasi untuk melepaskan masalah, menaikkan harga saham, dan menaikkan posisi tawar sebagai pemegang keputusan yang menentukan. Semua berpulang pada bagaimana kita mewarnai masa menunggu kita ini. Dan saya yakin, saya, anda , ataupun kita semua tidak ingin menjemput kematian dengan kenangan seperti itu. Biarlah kita dikenang sebagai manusia yang berjuang keras untuk membebaskan dari belenggu-belenggu kemiskinan dengan cara menghormati hak-hak orang lain. Biarlah kita hanya dikenang oleh keluarga terdekat saja, karena banyaknya orang yang mengenang tidak menghapuskan dosa kesalahan yang telah diperbuat namun perilaku perbuatan kita yang akan meringankan kehidupan selanjutnya. Darimana hartamu dan untuk apakah hartamu digunakan, begitu sulit menjelaskan. Di dunia kita boleh bersembunyi di sebalik undang-undang kebebasan informasi untuk tidak menjelaskan darimana “rekening gendut” yang telah di dapat. Atau kita bisa bersembunyi di sebalik traveler cek dan sakit pikun, lupa ingatan. Semoga itu akan meringankan, karena tiada hukuman bagi orang yang tiada akal atau lupa ingatan. Sampai kapan kalau kita coba mengelak dari kesalahan, sampai kapan waktu tersisa buat kita, dan tiada lagi kesempatan. Akankah kita menerima bila kita meninggalkan segala apa yang kita cintai dengan kenangan bahwa kita orang pikun, lupa ingatan, dan bersembunyi entah di bumi manalagi. Namun manusia sebagai makhluk berakal seringkali begitu tinggi egonya, untuk mengakui dan mempertanggungjawabkan kesalahan walau Masih di Beri Waktu.
Selamat tahun baru, kita tinggalkan kenangan tahun silam atas nasib saudara-saudara kita di Mentawai, di pelosok Merapi, di negeri Waisor, atau sekeliling Bromo. Bagaimana saudara-saudara kita menjemput kematian dengan perjuangan terhadap ujian alam, dengan sekuat tenaga, dari sedikit yang dia punya. Belum lagi airmata kering, belum lagi harga sapi terbakan terbayar, kita sudah diberi kenangan perebutan kekuasaan, apakah dengan penetapan atau dengan pemilihan langsung oleh rakyat. Semua berbantahan dengan logika intelektual masing-masing namun sulit untuk menutupi niat perebutan kekuasaan. Bagi kita semua apapun itu sebuah cara, yang terpenting adalah bagaimana mendapatkan pemimpin amanah yang bisa memberikan peluang untuk hidup dengan lebih baik. Bukan pemimpin yang memberikan selembar uang pada hari pemilihan dan akan menghisap sepanjang tahun dengan menghempaskan sumber kehidupan rakyat. Bukan dengan mengabaikan pasar yang terbakar terbiar, dan membagi peluang kepada segelintir orang dengan isyu tol tengah kota. Kalaulah kita tidak mampu member manfaat kepada sesama, janganlah paksa rakyat untuk membayar ongkos kampanye dengan memaksa mereka menyetujui usulan-usulan yang tiada diperlukan. Bukan rakyat yang memaksa Saudara mengeluarkan uang, namun nafsu untuk berkuasa yang begitu besar telah menghempaskan nurani dan membebani kehidupan itu sendiri. Begitu banyak mereka yang diberi amanah masuk ke penjara, namun begitu banyak yang ingin menyongsong mengikuti jejaknya, dengan menyorong istri, anak, saudara menggantikan dirinya mengemban tugas menyengsarakan diri dan masyarakatnya. Memanglah nafsu tiada batas, namun waktu dan umur ada batasnya. Masih di beri waktu, masih ada waktu yang tersedia di tahun 2011, adakah rencana untuk mengisi dengan memperbaiki diri dan melepaskan kepura-puraan.
Pernahkah kita membaca, sorot mata para buruh, sorot mata pengemis, sorot mata petani. Sejuta impian terhempas. Sepuluh tahun sudah berbenah dan selalunya jatuh dari partai tengkulak yang satu ke tengkulak yang lain. Ternyata persatuan tengkulak begitu kuatnya, dan untuk memperkuat pun mereka telah tergabung dalam sebuah Sekretariat. Sekretariat Gabungan para tengkulak, dengan ketua tengkulak yang paling top dalam berniaga, yang pandai mengira atau menghitung berapa harga manusia di Indonesia.
Masih ada waktu,
apakah tak hendak kita gunakan itu,
untuk menyongsong hidup di hari kemudian yang tiada menentu,
dan memberi kesempatan mereka untuk hidup lebih baik bersamamu.

(KL Note : Awal Januari 2011.)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »