Belanja dengan KTP-MyKad



Seorang ibu tunggal, masuk ke gerai Supermarket Giant di daerah Amcorp Plaza Petaling. Kemudian dia memilih kebutuhan utamanya, beras, gula,kecap, dan aneka bumbu rempah-rempah. Lalu berjalan ke arah kasir dan membayar. Namun untuk membayar kali ini dia tidak mengeluarkan uang atau alat pembayaran yang lain semacam Kartu Kredit atau Debit Card. Dia keluarkan sebuah KTP yang disebut dengan MyKad dan kemudian ditempelkan ke sebuah alat Pembaca. Tet… tet, terkurangilah saldonya sesuai dengan nilai keseluruhan barang yang dibelinya.

Sudah sejak beberapa tahun ini, KTP di negeri jiran terbuat dari Smart Card, sejenis kartu yang di dalamnya ada Processornya tempat memproses dan menyimpan data. Selain data identitas penduduk di dalamnya juga tersedia sejumlah saldo uang yang dapat digunakan untuk membeli barang, membayar angkutan, ataupun jasa servis yang lain. Dalam satu bulan terakhir fungsi Smart Card ditambah, melalui program “My Kasih Love My Neighbourhood” yang dibuat oleh yayasan MyKasih, digunakan untuk menggalakkan program membantu sesama.

Dana dihimpun oleh yayasan social, kemudian dari dana yang dihimpun diberikan kepada kaum miskin yang membutuhkan. Pemberiannya dengan jalan penambahan saldo yang ada pada KTP nya. Dana ini bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Gerai-gerai utama supermarket seperti Giant dapat menerima alat pembayaran ini. Dengan memberikan bantuan bukan secara tunai memudahkan pihak Yayasan untuk mengevaluasi pola perilaku belanja yang dibantu, selain itu juga bisa dicegah pembelanjaan yang melebihi kebutuhan.

Tak ada lagi cerita mengenai antrian orang mengambil BLT (Bantuan Langsung Tunai), dan bahkan meninggal dunia. Karena sumbangan atau bantuan langsung di debetkan pada kartu identitasnya yang disebut dengan MyKad tadi.

Sumbangan ini berasal dari masyarakat, ataupun dana-dana CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan. Masyarakat bisa menyumbang atau berderma dengan mentransfer dana kepada yayasan, atu juga bisa melalui uang receh kembalian belanja. Sedangkan perusahaan bisa mendaftarkan diri untuk implementasi program CSR nya.
Sedangkan penerima sumbangan, mendapat bantuan selama setahun, saldo sebesar RM 40 atau sekitar Rp 120.000,- akan diisikan setiap dua minggu. Selain untuk belanja kebutuhan, program ini juga digunakan untuk dana sekolah. Mereka yang kekurangan dapat mengajukan beasiswa, dan otomatis saldo KTP nya akan meningkat sebesar biaya sekolah yang diperlukan.
Bagaimana dengan kita?

Sebenarnya kalau ada kemauan pasti bisa, karena infrastruktur sudah mendukung. Coba kita lihat jaringan Indomart dan AlfaMart sudah masuk ke pelosok kampung. Kalau kita perhatikan mereka biasanya ada alat pembaca Smart Card atau Kartu Pintar yang diterbitkan oleh Bank BCA dan Bank Mandiri. Bank BCA menamakannya dengan Kartu Flazz dan Bank Mandiri member nama Mandiri Cash. Namun penggunaannya belum begitu banyak, karena yang disasar adalah mereka yang dari golongan berada atau kaya. Walaupun untuk golongan ini sudah banyak sarana untuk membayar, mulai dari tunai, kartu kredit, ataupun kartu debit.

Keuntungan menggunakan Smart Card atau Kartu Pintar ini untuk bertransaksi adalah bisa mengevaluasi pembelanjaan. Mulai apa saja yang dibeli, kapan, dimana, dan berapa yang dikeluarkan semuanya dapat dicatat di catatan transaksi. Kalau ini dijalankan dengan kerjasama antara pemerintah daerah, yayasan social, bank, dan jaringan supermarket, maka tidak ada lagi cerita antrian BLT atau berita uang BLT habis dalam satu minggu, karena penerimanya menggunakan untuk membeli DVD Player bukannya untuk belanja kebutuhan utama.

Mungkin sudah saatnya cara bagaimana menyumbang dan mengatur alokasi hasil sumbangan di atur sedemikian rupa, sehingga manfaat yang besa akan diperoleh secara bersama-sama. Dengan pola monitoring dan pembinaan cara pembelanjaan akan membuat mereka yang membutuhkan (miskin) tidak tergantung selamanya kepada penyumbang.

Insya Allah dengan kesamaan niat, dan Ihtiar yang sungguh-sungguh dalam bulan April 2012 ini, prototype yang sama di Indonesia akan dikembangkan. Kerjasama antara lembaga Riset RIMA, Research Institute For Mobile Application, YDSF, Bank Mandiri, dan Bank BCA mengembangkan kartu member RIMA-Card. Kartu ini akan berfungsi menjadi IPT, yakni :
1. Identity, marupakan kartu identitas member dari mereka yang menjadi anggota Donatur lembaga infaq YDSF
2. Payment , menjadi media pembayaran sebagaimana uang di gerai-gerai yang menjadi merchan bank terkait dan juga lembaga - lembaga pendidikan yang bekerjasama dengan RIMA Institute.
3. Transaction, menjadi Save Transaction, Kartu akses untuk transaksi hemat, masuk ke dalam Seminar atau forum yang diselenggarakan RIMA, uji coba praktikum, Short Training, atau kuliah di kelas-kelas yang dosennya sudah menjadi Expert di RIMA.

Ke depan dengan dukungan dari Software Accounting Bee Accounting dan juga LMS Software Sekolah dari PT Inosoft, ini akan menjadi alat Smart Transaction yang diakomodasi di UKM-Koperasi, ataupun di sekolah-sekolah yang tertarik menggunakannya.

Setiap Riset Butuh Waktu
Setiap Implementasi Butuh Edukasi
Setiap Nilai yang ditanam Butuh Inovasi.


Fajar Baskoro
Street Researcher
University of Malaya Kuala Lumpur

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »